Munirulabidin's Blog

May 18, 2010

Dari Lauhan Hingga Tokek

Filed under: UMUM — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 5:55 am

Beberapa tahun terakhir, masyarakat kita dihebohkan dengan berbagai macam masalah yang sempat mencuri perhatian masyarakat hingga booming di seluruh penjuru nusantara dan bahkan mungkin dunia. Masih jelas dalam ingatan kita, sekitar tahun 2000-an, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan bisnis ikan lauhan. Jenis ikan Lauhan yang tadinya dijadikan sebagai lauk-pauk seperti pecel lele, tiba-tiba menjadi jenis ikan yang laku dijual dengan harga hingga puluhan juta rupiah. Kita lihat dimana-mana bermunculan toko ikan hias yang menjual ikan lauhan ini karena bisnis ikan lauhan menjadi bisnis yang sangat menggiurkan. Tidak sedikit di antara para spekulan yang menjual mobil, rumah atau peralatan lain untuk modal pemeliharaan dan penjualan ikan lauhan ini. Waktu itu, saya pun sempat tertarik dengan ikan lauhan ini dan sempat membeli beberapa ekor untuk saya pelihara di aquarium. Tetapi tidak sampai satu tahun, tiba-tiba pamor ikan lauhan ini menjadi surut. Anakan ikan lauhan yang tadinya mencapai ratusan ribu, dalam waktu singkat menjadi hanya lima ribu rupiah. Sekarang saya dengar berita bahwa di Jawa Barat ada rumah makan yang menjual ikan bakar lauhan yang harganya sama dengan ikan bakar mujair atau lele.

Dua tahun belakangan kita juga mendengar satu fenomena yang sama, yaitu munculnya beberapa jenis bunga yang harganya melangit hingga ratusan juta rupiah, yaitu bungan gelombang cinta dengan berbagai macam jenisnya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba kemunculan bunga ini sempat menghebohkan bisnis agrobisnis di Indonesia, hingga ada beberapa berita yang mengatakan bahwa harga indukan gelombang cinta pada saat itu bisa laku hingga satu milyar rupiah. Banyak orang yang tergiur dengan bisnis bunga gelombang cinta ini, sehingga ada teman saya yang rela menjual rumah untuk membeli indukan gelombang cinta ukuran sedang dengan harga lima puluh juta rupiah. Tidak sampai satu tahun, tiba-tiba sedikit-demi sedikit harga bunga gelombang cinta turun drastis dan sekarang sudah menjadi seperti bunga-bunga biasa yang harganya tidak lebih dari seratus ribu.

Akhir-akhir ini, kurang lebih setahun yang lalu, kita juga mendengar adanya isu-isu tentang tokek yang konon harganya ada yang mencapai milyaran rupiah. Bila anda membuka situs-situs iklan di internet, atau di koran baik yang bertaraf lokal maupun nasional, tidak sedikit yang menawarkan untuk membeli tokek yang beratnya lebih dari 3 ons dengan harga milyaran rupiah. Di tetangga desa saya, juga ada petani yang kebetulan menemukan tokek yang beratnya kurang lebih tiga ons dan diganti dengan honda supra oleh tengkulak. Sampai saat ini masih banyak iklan-iklan yang terus menawarkan untuk membeli tokek-tokek besar dengan harga yang mahal. Tetapi untuk apa sebenarnya tokek tersebut? Untuk obatkah? Penelitiankah? atau untuk sesuatu yang lain yang hingga saat ini masih sangat misterius…. Mungkinkah ini merupakan rekayasa orang-orang tertentu yang ingin menjadikan booming seperti halnya ikan lauhan dan bunga gelombang cinta?

Mungkin kita tidak sadar, sebenarnya di balik semua yang terjadi pada ikan lauhan, gelombang cinta dan mungkin juga tokek ini, ada para spekulan yang bekerja sama dengan mass media untuk membangun image dimasyarakat, sehingga mereka tertarik dengan bisnis tersebut. Sebelum booming di masyarakat, mereka sudah mempersiapkan stok yang banyak, yang mereka sembunyikan di suatu tempat. Begitu booming, mereka akan melemparnya di pasaran. Untuk membuat rekayasa ini, mereka bekerjasama dengan mass media untuk membeli lauhan, bunga gelombang cinta dan tokek tersebut dengan harga yang tidak wajar, seperti 1 milyar rupiah. Lalu diekspos oleh mass media, padahal kita tidak tahu bahwa sebenarnya itu hanya rekayasa mereka belaka, karena yang menjual dan membeli adalah satu kelompok. Begitu masyarakat membaca dan tertarik dengan rekayasa tersebut, mereka mulai melepas produk-produk yang telah mereka timbun kepada masyarakat dengan harga yang mahal. Setelah masyarakat membeli, dalam waktu singkat harga menjadi turun dan akhirnya menjadi sampah.

Yang menjadikan kita heran adalah mengapa masyarakat kita sangat mudah terpengaruh dengan sesuatu yang bersifat instan seperti ini?

Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena mereka sudah lama menderita dengan hidup miskin dan susah, sehingga ketika ada iming-iming yang menjanjikan mereka bisa menjadi kaya dalam waktu singkat, maka dengan mudah mereka tertarik dan masuk di dalamnya. Begitu mereka masuk, ternyata semua itu adalah fatamorgana yang justru menjadikan mereka semakin susah dan melarat. Atau mungkin karena taraf pendidikan dan pengetahuan masyarakat kita yang kurang? Wallahu a’lam bishawab. Yang jelas ke depan, kita harus bisa mengambil pelajaran dari beberapa fenoma yang menimpa masyarakat kita. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam lubang yang sama dua kali. Yang jelas, jika sesuatu berjalan dengan normal, dia memerlukan proses yang normal pula. wallahu a’lam.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: