Munirulabidin's Blog

May 15, 2010

Integrasi Pesantren dan Perguruan Tinggi; Model PTAI Ideal Masa Depan

Filed under: MANAJEMEN PENDIDIKAN,PENDIDIKAN — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 11:19 pm

Akhir-akhir ini ada satu berita yang menggembirakan yang terjadi di lingkungan PTAIN dan PTAIS, yaitu adanya upaya untuk menggabungkan antara tradisi pesantren dan tradisi perguruan tinggi di seluruh PTAI di Indonesia. Beberapa Menteri Agama RI, seperti Bpk. Maftuh Basuni dan dilanjutkan oleh Bpk Suryadarma Ali, ketika berkunjung ke UIN Malang beberapa waktu yang lalu dan melihat tradisi pesantren di UIN Malang dengan segala bentuk dan model pengelolaannya sampai pada satu kesimpulan bahwa integrasi pesantren dan perguruan tinggi merupakan model yang paling ideal dalam pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam, baik negeri maupun swasta, di masa yang akan datang. Karena itu, mereka berdua menjadikan masalah integrasi pesantren dan perguruan tinggi ini menjadi salah satu program unggulan untuk lima tahun ke depan. Keseriusan mereka untuk melaksanakan program ini terlihat dari adanya beberapa program Depag Pusat, yang mengajak para rektor PTAIN dan PTAIS seluruh Indonesia beserta para pembantunya untuk melihat dari dekat tentang pengelolaan pondok pesantren di UIN Malang beberapa waktu yang lalu dan disusul dengan kunjungan-kunjungan lain dari para tenaga yang bakal dipersiapkan untuk mengelola pesantren di PTAI-PTAI tersebut. Tanggapan mereka cukup bagus dan hampir semuanya kalau tidak bisa dibilang seratus persen, mengatakan bahwa integrasi pesantren dan perguruan tinggi merupakan model paling ideal dalam pengembangan PTAI ke depan.

Pada awalnya, perguruan tinggi dan pesantren merupakan dua sisi pendidikan yang mempunyai banyak perbedaan. Seperti yang dikatakan oleh Malik Fajar (2004: 1) bahwa perguran tinggi merupakan gejala kota dan pesantren gejala desa. Perguruan tinggi identik dengan kemodernan dan pesantren identik dengan ketradisionalan. Perguruan tinggi lebih menekankan pendekatan-pendekatan yang bersifat liberal, sedangkan pesantren lebih menekankan sikap konservatif yang bersandar karena berpusat pada figure sang Kyai.
Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Nurcholish Madjid dalam Yasmadi (2002: 60-75) bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional baik dilihat dari sisi materi, metode, system pendidikan maupun gaya kepemimpinannya. Karena itu, menurutnya, perlu dilakukan perbaikan system pesantren dalam berbagai sisi agar pesantren mampu mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan.
Meskipun demikian, bukan berarti pondok pesantren berhenti di jalan tanpa mengalami perubahan-perubahan. Menurut Mastuhu (1994: 154-158) bahwa pendidikan pesanten telah mengalami dinamika yang luar biasa dalam segala bidang, baik dari sisi materi, metode pengajaran maupun gaya kepemimpinannya, dari system yang sangat tradisional hingga sangat modern.
Salah satu bentuk dinamika dan perkembangan pesantren yang paling awal adalah terjadinya perkawinan antara system pondok pesantren dengan system madrasah. Kedua lembaga itu, pada awalnya berdiri sendiri-sendiri. Model pengajaran di pondok pesantren disampaikan secara klasikal di dalam masjid atau surau dengan metode sorogan, sedangkan model pengajaran madrasah disampaikan secara modern di dalam kelas dengan metode yang bervariatif. Perkawinan antara pondok pesantren dan madrasah ini, telah membawa banyak kemajuan dalam dunia pesantren. Di antaranya, setelah menyelesaikan studi di pondok pesantren, para santri bias melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi di Indonesia, utamanya di fakultas-fakultas agama, seperti Fakultas Tarbiyah Islamiyah, Fakultas Ushuludin, Fakultas Syari’ah dan sebagainya.
Dalam perkembangan terakhir, muncul satu pemikiran tentang integrasi antara perguruan tinggi dan pesantren. Model yang paling awal dari integrasi pondok pesantren dan perguruan tinggi ini adalah model pesantren merespon pendidikan tinggi. Sebaliknya, model pendidikan tinggi yang merespon pesantren, baru muncul belakangan ini saja, meskipun telah ada beberapa perguruan tinggi yang memberikan fasilitas asrama bagi mahasiswanya, tetapi belum dikelelola seperti layaknya pesantren.
Pendirian pesantren di perguruan tinggi atau pesantren yang mendirikan perguruan tinggi memiliki tujuan yang berbeda-beda. Di pondok pesantren gontor, secara histories, pesantren lebih dulu berdiri daripada perguruan tinggi (ISID), karena Pondok Modern Gontor berdiri pada tahun 1926 sedangkan ISID berdiri pada tahun 1963 atau 36 tahun setelah berdirinya PMG (Pondok Modern Gontor). Menurut para pendirinya yang tertuang dalam Profil ISID Gontor (2006), tujuan pendirian perguruan tinggi di PMG adalah untuk melanjutkan cita-cita para pendiri PMG, yaitu mendirikan Universitas Islam yang bermutu dan berguna bagi pembangunan umat.
Menurut sebagian pengelola ISID bahwa tujuan dari pendirian ISID adalah sebagai kelanjutan dari pendidikan KMI di PMG. Para santri gontor yang telah lulus dari KMI, diharapkan bisa melanjutkan ke ISID Gontor, supaya keilmuan mereka berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, utamanya dalam berbahasa Arab dan Inggris. Karena menurutnya, sangat “eman” jika kemampuan berbahasa Arab dan Inggris mereka itu, tidak dikembangkan secara maksimal. Apabila mereka meneruskan di perguruan tinggi yang kurang berkualitas, maka kemampuan mereka yang baik itu akan tersia-siakan dan tidak berkembang.”
Umumnya para pengelola KMI Gontor dan ISID Gontor meyakini bahwa ISID Gontor merupakan tempat yang paling pas untuk melanjutkan studi bagi para alumni KMI Gontor. Karena di situlah mereka bias melanjutkan apa yang mereka peroleh selama menjadi santri di KMI Gontor.
Jika dilihat dari jumlah pendaftar dan jumlah mahasiswa di ISID Gontor, memang sebagian besar berasal dari lulusan KMI Gontor sendiri dan beberapa dari pondok alumni. Tidak lebih dari 2% mahasiswa yang berasal dari sekolah umum atau Madrasah Aliyah.
Adapun mengenai tujuan pendirian asrama (pondok) di ISID Gontor, menurut Drs. Nurhadi Ihsan, MIRKH, Dekan Fakultas Ushuludin ISID dan sekaligus sebagai pembina di asrama (pondok) mahasiswa mengatakan:
“Tujuan pendirian asrama di ISID adalah untuk melengkapi kemampuan akademik mahasiswa dari sisi spiritual dan spiritual quition. Di samping itu, asrama ISID juga berfungsi untuk memberikan pembinaan moral bagi mahasiswa, sehingga segala aktivitas mereka bias terkontrol jika ada mahasiswa yang berbuat sesuatu yang melanggar moral dan sebagainya.”

Sedangkan pendirian pesantren di UIN Malang, berbeda dengan tujuan pendirian pesantren di ISID. Jika di ISID Gontor, pesantren berdiri lebih awal dari perguruan tinggi, di UIN Malang, perguruan tinggi ada lebih dulu dan kemudian baru mendirikan pesantren. Sehingga pendidikan pesantren bertujuan untuk melengkapi pendidikan tinggi. Adapun secara spesifik, tujuan pendirian pesantren di UIN Malang adalah sebagaimana tercermin dalam misi UIN Malang, yaitu untuk mengantarkan mahasiswa memiliki kemantapan akidah, kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Di samping itu, tujuan pendirian pesantren di UIN Malang adalah untuk mengantarkan mahasiswa menjadi seorang intelek professional yang ulama’ dan seorang ulama yang intelek professional. Profesionalitas dalam bidang keilmuan dibina dan dibimbing melalui pendidikan perguruan tinggi, sedangkan untuk membina aspek-aspek yang berkaitan dengan keulamaan, dibina di dalam pesantren dan ditambah dengan perkuliahan materi keagamaan di tingkat fakultas. Karena itu menurut Rektor UIN Malang, dalam pidatonya yang disampaikan pada saat temu wali santri baru UIN Malang mengatakan bahwa tidak mungkin lahir seorang ulama tanpa mengenyam pendidikan pesantren.
Ketika beliau disangkal oleh seorang wali santri tentang pernyataan itu, bahwa banyak ulama yang lahir dari luar pesantren seperti Aa gym, Ustadz Jefri Al-Bukhari dan sebagainya, Rektor UIN menjawab bahwa mereka adalah para da’I bukan ulama, karena dai berbeda dengan ulama.
Secara terperinci tujuan pendirian pesantren di UIN Malang adalah sebagai berikut:
1. Untuk menciptakan suasana kondusif bagi pengembangan kepribadian mahasiswa yang memiliki kemantapan akidah dan spiritual, keagungan akhlak atau moral, keluasan ilmu dan kemantapan professional.
2. Untuk menciptakan suasana kondusif bagi pengembangan kegiatan keagamaan
3. Untuk menciptakan bi’ah lughawiyah yang kondusif bagi pengembangan bahasa Arab dan Inggris.
4. Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan minat dan bakat mahasiswa. (Lihat buku pedoman UIN tahun 2000)
Secara umum tujuan pendirian pondok di PT, dilihat dari kedua lembaga di atas, keduanya memiliki tujuan yang berbeda di satu sisi dan di sisi lain juga memiliki tujuan yang sama. Dari sisi persamaan, keduanya sama-sama menginginkan asrama (pondok) sebagai pusat pembinaan spiritual dan moral mahasiswa, serta untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi kegiatan keagamaan. Sedangkan perbedaannya, pendirian ISID bertujuan untuk melengkapi kebutuhan pondok pesantren (KMI) Gontor, sedangkan di UIN, pondok pesantren berfungsi untuk melengkapi kebutuhan perguruan tinggi.
Apapun tujuan dari masing-masing perguruan tinggi mendirikan pesantren atau sebaliknya pesantren yang mendirikan perguruan tinggi, saya berkeyakinan bahwa model integrasi pesantren dan perguruan tinggi merupakan model paling ideal untuk pengembangan perguruan tinggi agama Islam (PTAI) di masa yang akan datang. Ke depan kita berharap, pemerintah terus mendukung program pendirian pesantren di perguruan tinggi ini, tidak saja pada taraf dukungan moril, tetapi juga disertai dengan langkah-langkah kongrit yang langsung diimplementasikan, seperti bantuan pembangunan gedung asrama bagi santri, biaya pengelolaan santri dan sebagainya, sehingga angan-angan mereka menjadikan lulusan PTAI sebagai ulama intelek profesional dan intelek profesional yang ulama benar-benar terwujud dalam waktu dekat. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: