Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Pandangan Imam Al-Ghazali Tentang Ilmu Pengetahuan

Filed under: Uncategorized — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:00 am

Mencari Ilmu pengetahuan dalam Islam sangat dianjurkan, bahkan merupakan kewajiban yang disamakan dengan Jihad. Diterangkan dalam Al-Qur’an bahwa jika di dalam masyarakat muslim terjadi peperangan, maka mereka tidak boleh pergi ke medan perang seluruhnya, tetap harus ada orang-orang yang disuruh untuk belajar menuntut ilmu yang kedudukannya sama dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Karena itu, ilmu menjadi sangat penting kedudukannya dalam Islam. Yang menjadi pertanyaan adalah ilmu apa yang dianjurkan dalam Islam untuk dipelajari dan bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan itu?


Menjawab pertanyaan ini tentu tidak mudah, karena para ulama berselisih pendapat tentang pembidangan ilmu dalam Islam. Supaya kita tidak terjebak pada perbedaan-perbedaan itu, maka kita akan melihatnya dari sudut pandang Al-Ghazali tentang ilmu pengetahuan. Al-Ghazali telah membuat dua macam perbedaan pengetahuan yang ada pada manusia yaitu:

1. Pengetahuan yang didapatkan melalui belajar dan usaha, atau melalui pembelajaran manusia.

2. Melalui kasyaf dan ilham, yakni melalui pembelajaran rabbani.

Menurut Al-Ghazali pembelajaran manusia merupakan usaha yang didapatkan lewat pengambilan dalil, eksperimentasi dan istimbat hukum.

Sedangkan metode kasyf adalah metode ilmu ladunniilmu Rabbani—yang tidak didapatkan lewat usaha, akan tetapi dihujamkan ke dalam hati melalui jalan yang tidak ia ketahui.  Oleh karenanya itu, pengetahuan ini disebut ilham atau wahyu dilihat dari cara mendapatkannya, diketahui ataukah tidak diketahui. Allah berfirman,

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. ” (Al-An’am: 125).

Sesungguhnya manusia bias mendapatkan ilham (wahyu) ilahiyhiyah jika telah terangkat hijab dari hatinya dengan cara menjernihkan dan mensucikan hatinya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (As-Syam:  9-10).

Al-Ghazali pernah memberikan beberapa contoh atas kebenaran adanya ilham yang akan kami paparkan poin-poinnya sebagai berikut:

1. Al-Ghazali menyebutkan dalam wilayah ini beberapa ayat berikut:

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya.” (Al-Fathir: 2)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benAr-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.”  (Al- Ankabut: 69).

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”  (At-Thalaq: 2-3).

Ayat ini sebenarnya menjelaskan bahwa jalan keluar itu pasti ada pada setiap kesulitan dan kesusahan dan yang dimaksud dari “memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka” adalah bahwa Allah akan mengajarkannya ilmu tanpa melalui pembelajaran dan memahamkannya tanpa melalui eksperimentasi.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan.” (Al-Anfal: 29).

Al-Ghazali mengaitkan ayat ini dengan perkataannya: “Allah akan memberikan cahaya kepada kalian yang dengannya dapat membedakan antara yang haq dan yang batil dan yang akan mengeluarkannya dari jurang syubuhat.

“Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Yang dimaksud dengan ilmu ladunni itu adalah terbukanya rahasia hati tanpa adanya sebab yang dating dari luar.

Di antara bukti paling pokok yang menjelaskan tentang adanya ilham adalah adanya fitrah ketuhanan yang diberikan Allah pada setiap jiwa. Al-Ghazali menjelaskannya seperti di bawah ini:

1. Semua jiwa pada dasarnya adalah ahlul makrifat dan mampu meraihnya, karena semua jiwa, melalui kesuciannya yang asli dan sifat-sifatnya, dapat menerima cahaya jiwa universal di dalamnya, dan siap menerima bentuk yang rasional darinya. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, sedangkan segala ilmu tertanam dalam jiwa melalui kekuatan.

2. Rahmat Allah tercurahkan melalui hikmah-hikmah keder­mawanan dan kemuliaan-Nya, yang tidak seorangpun terlewatkan di dalamnya. Semua itu akan sempurna melalui jiwa universal, sebab segala ilmu berada dalam subtansi jiwa yang berhubungan lansung dengan akal pertama.

3. Di sana ada jiwa-jiwa yang tetap dalam kesuciannya yang pertama, yaitu jiwa-jiwa para nabi yang mampu menerima wahyu dan motivasi, oleh karena itu Allah menerimanya secara menyeluruh.

4. Adapun jiwa-jiwa yang lain, sesuai dengan tingkat keterjagaannya atas kesuciaan jiwanya yang pertama. Di antara penyebab berkurangnya kesucian tersebut adalah:

a. Terkikis dengan sendirinya seperti terkikisnya hati seorang anak kecil.

b. Karena maksiat dan kotoran yang bertumpuk di atas hati berupa syahawat yang mengakibatkan terhalangnya Al-Haq di dalam hati karena gelapnya.

c. Menyimpangnya hati dari tujuan yang diinginkan, yang darinya bersumber kebenaran.

d. Terhalang oleh taklid dan fanatisme mazhab.

Ilmu-ilmu ladunniah tidak pernah terhalang dari hati karena sifat bakhil dari si Pemberi nikmat, akan tetapi bias terhalang karena kotornya jiwa seperti kekeruhan dan kesibukan hati. Oleh karena itu manusia akan mampu memilikinya apabila hijab hati itu terangkat dengan cara menjernihkan dan mensucikan hati dengan tiupan ketuhanan. Allah berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (As-Syam: 9-10).

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (Al-An’am: 125).

Kemampuan akal manusia untuk mengetahui segala hakikat dan mendapatkan ilmu itu sangat terbatas, manusia tidak akan mampu menguasai atau meraup semua hakikat kosmos, sebagaimana ia tidak mampu mengetahui hakikat-hakikat yang gaib29 dengan usahanya sendiri.

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85).

Terlebih lagi, akal manusia cenderung berfikiran salah, sebagaimana akal juga cenderung lalai dan lupa. Dengan demikian manusia pada satu saat membutuhkan petunjuk Allah, dan membutuhkan pengarahan-Nya kepada sesuatu yang membawa kebaikan dan kebajikan pada dirinya,  baik itu melalui jalur para nabi dan para rasul, maupun melalui metode ilham dan firasat (mimpi). Misi penting para nabi dan para rasul yang telah diutus oleh Allah sepanjang sejarah yang berbeda adalah membimbing manusia dan mengajarkan kepada mereka syiar-syiar agama dan apa yang terbaik buat manusia.

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Al-Baqarah: 213).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.”  (An-Nahl: 36).

Ilham adalah semacam ilmu ladunni yang Allah curahkan kepada manusia, dan menghujamkannya ke dalam hati manusia, yang dengannya manusia mampu menyingkap segala rahasia, dan dapat memperjelas segala hakikat.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang mengisyaratkan adanya ilmu ladunni– ilmu rabbani yang dapat mengantarkan pelakunya melalui ilham- yang diberikan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya. Di antara contoh itu adalah apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an Al-Karim dalam surat Al-Anbiya’ tentang cerita Nabi Dawud dan Sulaiman ketika keduanya menghakimi dua orang lelaki, yang satunya adalah pemilik ladang yang mengadu bahwa kambing lelaki yang satunya telah merumput dan merusak ladangnya.    Kemudian Dawud memenangkan pemiliki ladang itu dengan mengambil kambingnya. Allah Ta’ala memberikan ilham kepada Sulaiman dengan memberikan kemenangan pada pemilik ladang dengan cara mengambil manafaat dari hasil kambing, keturunan, dan dari bulunya sebagai ganti dari hasil ladang yang telah dimakan oleh kambing itu, sebagai salah satu cara untuk mendamaikan pemilik kambing yang menjadi balasan kepada pemilik ladang itu. Nabi Dawud melihat kevalidan pendapat Sulaiman lalu mencabut hukum yang diberikan kepadanya. Firman Allah:

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat).” (Al-Anbiya’: 78-79).

Dan firman Allah Ta’ala tentang Nabi Dawud:

“Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 251).

“Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta‘bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf 21-22)

Di antara contoh-contoh yang nyata dalam Al-Qur’an mengenai Ilmu ladunni  terdapat dalam surat Al-Kahfi tentang hamba yang Shaleh (Haidhir) yang diminta oleh Musa, sebagai temannya untuk belajar Ilmu dari orang tersebut

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi 65-66).

Sekalipun Musa adalah seorang Nabi dan Rasul tetapi Allah tidak pernah mengajarkan kepadanya sesuatu seperti yang Allah ajarkan secara khusus kepada hamba yang shaleh tersebut berupa ilmu ladunni yang dapat menyingkap rahasia-rahasia gaib yang tidak pernah diketahui Nabi Musa sebelumnya. Seorang hamba yang shaleh tadi diberikan pengetahuan oleh Allah sehingga dia mengetahui bahwa di sana ada seorang raja yang ingin merampok kapal dan membegalnya, oleh karena itu ia membocorkan perahu yang dimiliki kaum fakir dan miskin supaya tenggelam dan menyelamatkannya dari raja yang dzalim. Allah juga memberikan pengetahuan kepadanya bahwa anak yang dibunuhnya itu akan berbuat durhaka terhadap kedua orang tuanya yang Shaleh, lalu Allah menghendaki untuk menggantikan keduanya dengan anak yang lebih baik darinya. Sebagaimana ia juga tahu bahwa di bawah dinding yang akan dia hancurkan itu, terdapat harta karun milik dua anak miskin di kota, kedua orang tuanya adalah orang shaleh, lalu orang tuanya  membangun tembok untuk menyaimpan harta karun itu untuk kedua anaknya sampai mereka berdua dewasa dan dapat menikmati harta itu. Hamba yang shaleh itu (Haidir) berkata bahwa apa yang dilakukannya itu bukan keinginannya akan tetapi merupakan perintah Allah Ta’ala:

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (Al-Kahfi: 82).

Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menunjukkan tentang bisikan atau ilham Tuhan yang mungkin diberikan kepada selain para Nabi dan Rasul. Hal itu terjadi pada Ibunda Nabi Musa Alaihissalam.

Firaun yang kejam dan melampaui batas telah bersikap sombong, menjadikan penduduk Mesir menjadi beberapa golongan, setiap golongan berada dalam naungan kekuasaannya. Terjadilah penindasan dan kedzaliman yang luar biasa atas bani Israil karena mereka berseberangan aqidah dengannya. Fir’aun yang terlaknat merasa bahwa itu merupakan ancaman bagi kekuasaanya karena adanya golongan ini di Mesir. Maka ia segera mencari solusi yang kotor untuk menghilangkan ancaman yang berasal dari golongan ini. Hal  itu dilakukan dengan cara menyembelih setiap anak lelaki dari anak-anak bani Israil yang baru dilahirkan sehingga populasi kaum lelaki mereka tidak bertambah. Sedangkan Musa Alahissalam, dilahirkan pada situasi yang genting di mana bahaya mengancam jiwanya dan kematian mengitarinya. Situasi inilah yang membuat ibunya kebingungan, ketakutan akan tersebarluasnya kelahiran anak tercintanya. Dia dan banyinya berada dalam kegelisahan. Dia merasa tidak mampu melindungi dan menyembunyikan anaknya. Dari sinalah  campur tangan Tuhan bermula. Ibunya selalu dihantui oleh rasa kegelisahan yang mencekam dan terbersitlah dalam benak ibunya sebuah ide yang harus dilakukan.  Lalu Allah mewahyukan cara itu:

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”  (Al-Qasash: 7).

Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa iman, takwa, dan ikhlas adalah wujud penghambaan kepada Allah dan segala sesuatu yang membawa kepada penyucian hati dan penerangan ruh dapat menjadikan manusia siap untuk menerima bisikan dan Ilham dari Allah Ta’ala di mana dia akan menunjukkanya ke jalan kebaikan dan kebenaran, dan akan membimbingnya ke jalan kemuliaan dan akan memberikannya petunjuk:

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17).

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benAr-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benAr-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69).

Psikolog kontemporer tidak menyanggah pendapat yang mengkaji tentang ilham ketuhanan ini, namun ketika mereka mengkaji suatu pemikiran yang muncul secara tiba-tiba, mereka dengan serta-merta menyebutnya dengan istilah ilham atau iluminasi. Menurut mereka ilham itu adalah pemikiran-pemikiran baru yang muncul secara tiba-tiba ketika seseorang sedang mencari solusi dari problem yang dihadapinya. Mereka mengorientasikan ilham ini sebagai sesuatu yang terpancar dari akal si pemikir itu sendiri, bukan sesuatu yang berasal dari faktor eksternal. Ketika manusia berfikir tentang problem apapun sejenak tanpa ada petunjuk terhadap solusi dari permasalahan itu kemudian ia meninggalkannya, biasanya dalam beberapa waktu otaknya kembali jernih kemudian kembali untuk berfikir tentang masalah itu selanjutnya. Peristiwa ditengah-tengah waktu istirahat tersebut—yang disebut oleh psikolog sebagai waktu penjernihan—terjadi perubahan-perubahan penting dalam proses berfikir. Yang pertama melepaskan fikiran dari gangguan-gangguan yang mencegahnya untuk menemukan solusi. Kedua mendinginkan otak dari curahan tenaga yang telah digemboskannya sebagai transformasi pemikiran dalam sebuah persoalan, di mana kalau berfikir ulang tentangnya akan semakin jernih. Ketiga, peristiwa model pengaturan ini dalam pengetahuan manusia dapat membawa kejelasan antara beberapa relasi yang sebelumnya tidak jelas. Lalu muncullah ide-ide baru, dan ketenangan dalam mencari solusi atas sebuah problem.

Pada kenyataannya tidak terdapat pertentangan anatara apa yang dikemukan oleh para psikolog modern dalam interpretasi mereka terhadap pemikiran baru dengan penafsiran secara religious tentang ilham itu sendiri. Para psikolog modern tetap memegang interpretasi mereka melalui proses fisiologis yang turut melengkapi organ otak, dan melalui proses cek psikologis yang mengiringinya. Akan tetapi tokoh agama dengan segala penerimaannya terhadap adanya proses fisiologis yang turut melengkapi organ otak dan proses psikologis yang mengiringinya, mereka tidak terhenti di sana bahkan melampui tingkat penafsiran ini. Mereka berpendapat bahwa Allah lah yang menggerakkan segala sesuatu yang ada di alam ini dan yang menjadi Pengatur bagi semua ururasan-urusanya, terkadang kehendak-Nya tertuang dalam proses berfikir di kalangan sebagian manusia melalui segala cara, di mana itu dapat menunjukkan mereka ke dalam penyingkapan terhadap beberapa hakikat yang Allah ingin mengilhami mereka lewat jalan itu, lalu tampak jelaslah bagi mereka hakikat-hakikat ini seolah terpancar di dalam akal mereka secara tiba-tiba. Terkadang kehendak Allah untuk memberikan ilham itu bertepatan dengan saat seseorang berfikir tentang sesuatu. Allah bias melimpahkannya kapan pun Allah kehendaki kepada para nabi dan rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya berupa bisikan-bisikan dan ilham.

Para psikolog Muslim terdahulu sejak lama membuat interpretasi tentang ilham yaitu sebuah tafsiran yang sesuai dengan konsep agama, dan sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an. Imam Al-Ghazali misalnya, berkaitan dengan pendapat-pendapatnya yang telah lalu mengenai bisikan-bisikan dan ilham mengemukan dalil qath’i untuk mentashih pandangannya tentang ilham itu sendiri. Keajaiban mimpi yang benar dapat membuka tabir alam gaib. Apabila hal itu terjadi pada saat tidur maka tidak mustahil hal itu terjadi pada saat terjaga. Al-Ghazali berkata,

“Tidak dibedakan antara kondisi tertidur dengan kondisi terjaga, kecuali kalau sedang tidak enak perasaan, dan atau sedang tidak respon dengan sesuatu yang berada di luar dirinya (faktor eksternal), betapa banyak orang yang sedang terjaga, berakal tidak dapat mendengar, melihat karena sibuk dengan dirinya sendiri.”

Al-Ghazali sepakat dengan Ibnu Sina dalam menginterpretasikan wahyu atau ilham yang terjadi pada sebagian manusia dalam bentuk mimpi,  yang mana pada saat itu jiwanya sedang terhubungan dengan alam malakut yang paling tinggi, dan sedang mendapatkan tiupan wahyu atau ilham dari Tuhan. Yang dimaksud dengan mimpi dalam Al-Qur’an adalah penglihatan yang jujur (mimpi yang benar) yang Allah berikan kepada para nabi dan rasul-Nya dan kepada manusia selain mereka dengan wahyu atau ilham tertentu, atau mengabarkan kepada mereka melalui satu perkara yang akan terjadi suatu saat nanti, contoh dari hal itu adalah mimpi yang dialami oleh Yusuf Alaihissalam.:

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”  (Yusuf: 4).

Mimpi ini nantinya benar-benar terwujud ketika Yusuf menghadirkan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, pada saat mereka mendatanginya, mereka bersujud sebagai rasa hormat kepadanya.

Al-Qur’an juga menyebutkan mimpi yang dialami oleh masing-masing dari dua pemuda yang dimasukkan ke dalam penjara bersama Yusuf dan Yusuf menafsirkan mimpi keduanya32. sebagaimana Al-Qur’an juga menyebutkan mimpi yang dilihat oleh raja Mesir.

“Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta`bir mimpiku itu jika kamu dapat mena`birkan mimpi.” (Yusuf: 43).

Interpretasi Yusuf terhadap mimpi ini adalah benar. Begitu juga mimpi yang dialami Rasulullah pada tahun yang di dalamnya Rasulullah mengadakan perjanjian Hudaibiyah bahwa Ia bermimpi masuk kota Makkah dan Tawaf di Baitullah:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (Al-Fath: 27).

Pada akhir diskusi mengenai bisikan dan ilham ini, kami menyebutkan beberapa ayat yang ada hubungannya dengan bisikan yang diberikan kepada Nabi Allah Musa:

“Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.” (Al-A’raf: 160).

“Dan kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.” (Al-A’raf: 117),

“Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”. (As-Syu’ara’: 52).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Al-Ghazali, ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua macam, yaitu pengetahuan yang didapatkan melalui belajar dan usaha, atau melalui pembelajaran manusia. Kedua, ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui kasyaf dan ilham, yakni melalui pembelajaran rabbani. Jika keduanya dipelajari dengan benar berdasarkan petunjuk Allah, maka keduanya akan bisa sampai kepada pengetahuan tentang Allah. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: