Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Memperkenalkan Islam Inklusif Sejak Usia Dini

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:54 am

Membaca artatikel Prof. Imam tentang “Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum” di face book pada hari Senin 16 – November 2009,  saya merasa prihatin, yang mana banyak generasi kita sejak usia dini telah dididik dengan ajaran Islam “keras” sehingga mereka tertarik dengan Islam garis keras yang eksklusif dan intoleran. Hal ini menjadikan mereka sangat mudah dirayu oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menjadi generasi para teroris yang mengatasnamakan Islam.  Banyak generasi muda yang sejak dini telah dicekoki dengan ajaran Islam “keras” ini, menjadi sangat mudah dipinang oleh para teroris untuk menjadi pengantin “bom bunuh diri”, seperti yang terjadi di Hotel Mariot Kuningan beberapa waktu yang lalu, yang mana pelaku bom bunuh dirinya adalah seorang yang masih muda.

Islam memang memiliki ajaran yang sangat universal, ada di dalamnya ajaran yang menganjurkan untuk bersifat lembut dan kasih sayang, tetapi ada juga yang di dalamnya menganjurkan untuk bersifat tegas dan keras dalam kondisi-kondisi tertentu. Ketika seseorang hanya mempelajari Islam secara setengah-setengah dengan mengambil ayat-ayat yang lembut dan kasih sayang saja, dia akan menganggap bahwa Islam itu indah, damai, lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi sebaliknya, ketika seseorang hanya mengambil ayat-ayat tentang ajaran yang menganjurkan untuk bersifat tegas dan keras, tanpa melihat konteksnya, maka dia akan beranggapan sebaliknya bahwa Islam itu keras, tidak toleran, eksklusif dan sebagainya. Padahal, seluruh ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain, dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Masing-masing memiliki konteksnya sendiri-sendiri.

Saya sepakat bahwa pendidikan agama pada  usia dini, sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakteristik seseorang. Kepribadian anak yang sejak kecil dididik dengan kasih sayang, tentu berbeda dengan mereka yang dibiarkan hidup dalam dunia liar dan keras tanpa kasih sayang. Segala sesuatu yang dikenal anak sejak usia dini, dapat menjadi pondasi yang sangat kuat dalam membentuk bangunan-bangunan kepribadian pada tahap-tahap selanjutnya, meskipun bisa juga berubah setelah mengalami gesekan pemikiran ketika dia menjadi dewasa. Karena itu, corak ajaran Islam yang diperkenalkan kepada anak didik kita pada usia dini, juga sangat berpengaruh nantinya pada pembentukan karakter dan corak keagamaan yang dianutnya.

Melihat pentingnya pendidikan usia dini ini, maka seyogyanya kita tidak mengajarkan Islam secara sembarangan kepada mereka, apalagi hal-hal yang berbau permusuhan dan kebencian. Usul Prof. Imam agar diajarkan saja surat Al-Fatihah, yang di dalamnya terdapat ajaran tentang kasih sayang, ketuhanan dan sebagainya, menurut saya cukup baik, tetapi implementasinya di lapangan kadang-kadang menjadi berbeda. Bisa saja para guru yang menjelaskan surat Al-Fatihan itu, menafsirkan dengan tafsiran Islam “keras” ketika menjelaskan ayat “wa laa adh-dhaallin” yang artinya “dan bukan jalan orang-orang yang sesat”. Karena pada kata tersebut bisa dimaknai dengan sesuatu yang negatif jika dalam otak seseorang terdapat bibit-bibit kekerasan.

Menurut saya, pendidikan agama Islam yang diajarkan kepada anak usia dini, terutama di sekolah-sekolah tempat mereka belajar,  harus tetap memiliki kurikulum yang jelas, tetapi muatannya dipilihkan ayat-ayat yang mengajarkan tentang kasih sayang, toleransi, keterbukaan, persaudaraan, rasa hormat-menghormati dan sebagainya, sehingga tertanam dalam diri mereka bahwa Islam adalah agama kasih sayang dan toleran. Tetapii masalah akidah dan syari’ah juga harus tetap diajarkan secara maksimal supaya pondasi keagamaan mereka juga kuat dan tidak mudah goyah ketika mendapatkan tantangan yang lebih berat.

Saya memiliki pengalaman yang cukup lama, yaitu sekitar 6 tahun mengelola Taman Pendidikan Al-Qur’an, yang kebanyakan santrinya adalah anak-anak usia dini, tertutama anak usia TK hingga SMP.  Memang kita tidak bisa mewarnai mereka seratus persen, karena mereka lebih banyak hidup dan berbagaul bersama kedua orang tua dan keluarga mereka. Karena itu, kepribadian mereka juga berbeda-beda sesuai dengan lingkungan di keluarga masing-masing. Ada salah seorang anak yang menurut saya memiliki bibit-bibit pemahaman “Islam keras”. Karena setiap hari dia selalu cerita tentang orang-orang Afghanistan yang dibunuh oleh orang-orang Yahudi, orang-orang Muslim di Ambon yang dibantai oleh orang-orang Kristen dan sebagainya. Dia juga pernah ditanya, kalau besar nanti kamu mau jadi apa? Jawabannya, saya ingin berjihad fi sabilillah melawan Yahudi dan orang-orang Israil.

Melihat kondisi santri saya yang seperti ini, saya bertanya-tanya, kok bisa ya anak sekecil ini berpikiran seperti itu. Setelah saya selidiki, ternyata di rumahnya dia sering melihat film-film yang menggambarkan tentang pembantaian terhadap orang-orang Afghanistan oleh Yahudi di Jalur Ghaza dan melihat peperangan antara kelompok Islam dan Kristen di Ambon beberapa waktu yang lalu, yang di dalamnya terdapat narasi-narasi yang profokatif, yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak usia dini. Mungkin dia sangat terkesan sekali dengan isi film-film dokumentasi itu, sehingga membentuk karakteristik yang seperti itu. Setelah dewasa, saya melihat dia menjadi pengikut jama’ah Islam eksklusif dengan penampilannya yang khas.

Cerita ini sengaja saya letakkan di bagian akhir, supaya dapat memberikan kesan kepada para pembaca bahwa pendidikan Islam pada usia dini, sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakteristik anak tersebut di masa-masa berikutnya, sehingga kita harus berhati-hati dalam mengajarkan ajaran Islam kepada mereka.  Sebaiknya, ajaran-ajaran Islam yang bersifat iklusif harus lebih diutamakan dalam mengenalkan Islam kepada anak-anak kita, supaya kelak mereka memiliki wawasan Islam yang lebih luas, terbuka dan bisa hidup berdampingan dengan sesama, dengan penuh ramat dan kasih sayang. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: