Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Membangun Etos Kerja dan Kerja Entos di Instansi Pemerintah

Filed under: MANAJEMEN PENDIDIKAN — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:49 am

MEMBANGUN ETOS KERJA DAN KERJA “ENTOS” DI LINGKUNGAN INSTANSI PEMERINTAH

Hari Jum’at tanggal 05 Oktober 2009, UIN Malang mengadakan sebuah seminar yang berjudul “Meningkatkan Mutu dan Kinerja Pegawai dan Dosen UIN Malang dengan Pendekatan OMEK”. Sebagai Nara Sumber dalam seminar tersebut adalah Bp. Prof. Dr……, Tim Khusus Menteri Pendidikan Nasional. Dalam seminar itu, Naja Sudjana mengatakan bahwa kinerja dan etos kerja pegawai di Indoensia, terutama PNS, sangat rendah dibandingkan dengan Negara-negara maju, baik di Asia maupun Eropa.

Karena lama di Jepang, maka beliau membandingkan antara etos kerja PNS dengan pegawai di Jepang. Di Indonesia, para pegawai negeri, masih bisa keluyuran dan bahkan tidur siang pada saat jam kerja meskipun pekerjaan banyak dan bertumpuk-tumpuk di atas meja kerjanya. Ketika datang ke kantor, mereka tidak langsung menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai itu, tetapi justru membaca Koran dan minum kopi terlebih dahulu. Setelah itu, masih ngobrol-ngobrol sebentar dengan kawan-kawannya, setelah capek baru mulai kerja. Belum ada satu jam kerja sudah kelelahan dan ngantuk. Untuk mengatasinya, ada yang tidur di ruang belakang, mushala dan sebagainya, atau keluyuran ke tempat-tempat keramaian seperti Mall, pasar dan lain-lain.

Lain dengan di Jepang, seorang pegawai yang masuk kantor, baik di instansi pemerintah maupun swasta, harus siap bekerja keras sesuai dengan bidangnya masing-masing, sehingga tidak sempat lagi keluyuran apalagi tidur pada saat jam kerja. Jika ada pegawai yang mengantuk pada saat jam kerja, maka dia akan dipanggil oleh tim dokter untuk diperiksa apakah dia sakit atau yang lain.  Menurut orang Jepang, jika seseorang mengantuk atau tidur di siang hari, berarti ada kelainan pada orang tersebut karena tiga hal: sakit, kelelahan atau salah makan, sehingga perlu segera ditangani.

Ada satu cerita lucu tentang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang. Salah seorang mahasiswa Indonesia yang selalu mengantuk ketika kuliah. Lalu dia dipanggil oleh Dekan untuk ketau tentang sebab ngantuknya anak tersebut. Maka dia disuruh untuk melakukan general check up untuk diketahui kelainan apa yang terjadi pada mahasiswa Indonesia tersebut. Setelah melakukan checkup, ternyata dia sehat wal afiat. Lalu dia disuruh masuk kuliah lagi dan mengantuk lagi. Dia dipanggil lagi dan dilakukan tes psikologis, ternyata juga normal. Setelah dilakukan interview secara intensif ditemukan jawaban ternyata dia salah makan. Rupanya ketika di Indonesia, dia terbiasa makan dengan pola makan yang salah, yaitu nasinya dua piring, tetapi lauknya hanyak krupuk dan tempe. Sedangkan di Jepang, lauknya dua piring dan nasinya hanya beberapa sendok.

Berbicara tentang etos kerja dan kerja entos di lingkungan pemerintah, sungguh sangat memprihatinkan. Problem utama yang dihadapi para pegawai di lingkungan pemerintah adalah etos kerja yang rendah dan kerja tidak entos. Salah satu penyebabnya adalah karena kualitas SDM yang rendah dan minim pengalaman, sehingga banyak di antara mereka yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan dalam pekerjaannya. Sangat banyak di antara pegawai yang masih bermental menunggu pekerjaan datang daripada menjemput pekerjaan. Akibatnya, jika tidak ada pekerjaan mereka santai-santai dan jika pekerjaan datang akhirnya menumpuk dan terbengkalai.

Untuk membangun para pegawai yang “entos” kerja memang tidak gampang. Diperlukan banyak usaha yang harus dilakukan, terutama oleh para pejabat yang menjadi atasan mereka. Misalnya, perlu dilakukan peningkatan SDM yang berkelanjutan. Mungkin langkah awal yang perlu diperbaiki adalah memperbaiki pola rekruitmen pegawai negeri sipil (PNS). Selama ini, rekruitmen PNS sarat dengan KKN. Mereka yang diangkat menjadi PNS bukanlah orang yang memiliki kualitas unggul, baik dari sisi kemampuan akademik maupun kinerjanya, tetapi siapa yang mau membayar dengan plafon tertentu. Misalnya, untuk S-1 membayar 100 juta, D3 75 jt, SMA 50 juta dan sebagainya. Sedangkan mereka yang tidak mampu membayar, meskipun memiliki kualitas yang bagus, baik secara akademik maupun kinerja, tidak dijadikan sebagai pertimbangan sama sekali. Akibatnya, para PNS yang baru diangkat belum jelas kualitas mereka, sehingga tidak bisa disalahkan jika kinerja mereka pun sangat rendah.

Langkah kedua adalah merubah budaya kerja PNS dari kerja seadanya menjadi budaya kerja professional. Budaya kerja PNS selama ini dinilai rendah karena mereka merasa bahwa posisi mereka sebagai pegawai sudah aman dan rajin maupun tidak rajin, berprestasi maupun tidak, tidak berpengaruh terhadap gaji dan upah mereka,. Karena itu mereka bekerja seadanya dan banyak di antara mereka yang mengerjakan tugas-tugas mereka hanya sekedar menjalankan tugas. Untuk melakukan perubahan budaya ini, bisa dimulai dari dua jalur, yaitu jalur vertikal dan horizontal.

Pada jalur vertikal, para pimpinan di lingkungan pemerintah harus melakukan perbaikan sistem organisasi. Jika sistem organisasi yang berjalan di lingkungan pemerintah tidak bagus, maka tidak mungkin bisa menciptakan kinerja yang baik dan tertata rapi, karena itu para pimpinan di lingkungan pemerintah harus kelakukan perbaikan kinerja melalui perbaikan sistem organisasi.

Sedangkan dari jalur horizontal, masing-masing pegawai harus melakukan pembenahan diri dengan melakukan introspeksi diri untuk melakukan perbaikan kualitas diri, baik secara mental maupun ketrampilan. Hal itu tidak bisa dilakukan kecuali jika mereka semua memulainya dari diri mereka sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Meskipun para pimpinan mengajak mereka untuk memperbaiki kinerja setiap saat, jika mereka sendiri tidak punya keinginan untuk berubah, maka perubahan kinerja itu tidak akan bisa tercapai. Ibaratnya, seorang penggembala sapi bisa memaksa para sapinya masuk ke dalam tempat pengguyangan sapi, tetapi mereka tidak bisa memaksa sapi-sapi itu untuk minum air dari tempat pengguyangan tersebut. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: