Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Kekerasan Dalam Pendidikan

Filed under: PENDIDIKAN — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:17 am

Akhir-akhir ini kita sering mendengar, melihat dan membaca beberapa mass media yang memberitakan tentang guru yang dilaporkan oleh orang tua murid kepada polisi karena kasus kekerasan. Banyak orang tua yang tidak rela anaknya diperlakukan secara keras di sekolah, sehingga ketika mereka tahu anak mereka  diperlakukan dengan keras, mereka langsung memprotes atau melaporkannya kepada polisi, tanpa mengetahui kondisi yang sesungguhnya yang dihadapi oleh guru di sekolah.

Menurut penuturan seorang guru yang mengajar di MTS Sunan Kalijaga Malang, ada satu dilema yang dihadapi oleh para guru dalam melakukan proses pembelajaran di sekolah pada saat ini, di satu sisi guru dituntut untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran di sekolah, tetapi di sisi lain guru dihadapkan dengan situasi dan kondisi yang serba sulit, terutama terkait dengan kondisi dan pergaulan siswa.

Menurutnya, kondisi siswa di MTS yang dia ajar itu berbeda dengan dulu. Mereka sekarang lebih sulit diatur, nakal, jail dan malas. Hanya sedikit yang benar-benar mau diajak untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Mungkin karena pengaruh lingkungan di rumah dan pengaruh mass media yang semakin deras menghujani mereka. Karena itu, tidak sedikit guru yang menangis tatkala mengajar karena sulitnya mengatur mereka. Ketika guru menerangkan mereka bicara sendiri-sendiri, diberi PR tidak mengerjakan, diterangkan gak paham-paham, belum waktunya pulang sudah banyak di antara mereka yang colut/mbolos sekolah.

Keadaan seperti itu, menjadikan emosi para guru sering meningkat. Mereka yang tidak sabar biasanya melakukan tindak kekerasan dengan menghukum para siswa yang melanggar, mulai dari disuruh berdiri di depan kelas, dipukul dengan menjalin hingga ditempeleng dengan tangan. Sebagian guru perempuan hanya bisa menangis ketika tidak bisa mengatasi keadaan para siswa yang seperti itu. Tetapi ada juga guru yang cuek bebek melihat kondisi yang seperti ini. Menurutnya, dia tidak mau pusing-pusing dan stress. Yang penting dia masuk kelas, menyampaikan materi, faham atau tidak bukan urusannya. Jika mereka tidak bisa, itu salah mereka sendiri mengapa tidak mau memperhatikan. Daripada emosi, lalu melakukan kekerasan, nanti akan dilaporkan ke komnas HAM atau UU perlindungan anak, sehingga repot sendiri.

Menyikapi guru yang seperti ini, kepala sekolah MTS SK mengatakan bahwa  justru guru seperti ini yang tidak memiliki semangat dan tujuan dalam pengajaran. Jika dia memiliki semangat, pasti akan berusaha dengan berbagai macam cara untuk menjadikan para siswanya mau belajar, termasuk dengan kekerasan.

Mengatasi kondisi siswa yang rumit seperti ini, salah seorang guru yang kelihatan semangat mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan HAM atau UU perlindungan anak. Kalau ada anak yang sulit diatur, dia akan hukum dan kalau hukuman ringan tidak mempan ya ditempeleng. Silahkan saya dilaporkan ke komnas HAM atau dijerat UU perlindungan anak. Saya tidak takut, karena saya melakukan semua ini demi kebaikan mereka bukan untuk saya. Saya melakukan ini karena saya peduli dengan mereka. Kalau saya tidak peduli, tentu akan saya biarkan saja mereka. Tetapi apa jadinya mereka nanti bila mereka dibiarkan bebas seperti itu, katanya.

Terkait dengan kekerasan dalam pendidikan ini, saya sendiri memiliki pengalaman yang tidak pernah saya lupakan hingga sekarang. Ketika belajar di sebuah lembaga pondok modern di Ponorogo, saya juga pernah dipukul dengan sajadah dan tangan oleh kakak senior dan guru saya karena melanggar peraturan di rayon. Selama empat tahun di lembaga itu, sebanyak empat kali saya diperlakukan dengan keras. Pertama, dipukul dengan sajadah oleh pengurus bahasa karena saya berbicara dengan bahasa jawa. Kedua, ditempeleng bagian keamanan karena setelah kegiatan pramuka, mandi sebelum shalat Ashar. Ketiga, ditempeleng bagian keamanan karena terlambat shalat berjamaah. Keempat, dipecut dengan menjalin hingga babak belur karena mengadakan pertemuan konsul tanpa izin ke bagian pengasuhan.

Seingat saya, pada waktu mendapatkan perlakuan keras seperti itu, saya merasa sakit secara fisik  dan juga sakit hati. Tetapi saya sadar telah berbuat salah dan melanggar peraturan.  Di samping itu, saya juga menganggap hal itu wajar, karena hukuman seperti itu sudah biasa diberikan kepada para santri yang melanggar peraturan.  Sekarang bekas-bekas fisiknya sudah tidak ada, tetapi saya tidak pernah lupa, siapa-siapa yang pernah menempeleng dan memukul saya dengan rotan meskipun saya sudah memaafkan mereka. Bahkan saya berdoa semoga mereka diberi pahala karena telah mendidik saya dengan keras, sehingga saya bisa menjadi seperti ini.

Memang kekerasan bukan jalan yang baik untuk mendidik anak, tetapi bukan berarti tidak perlu ada pendidikan yang diterapkan secara keras. Supaya tidak terjadi tindak kekerasan dalam pendidikan, mungkin perlu dilakukan beberapa tahap: pertama, guru perlu memberikan pemahaman kepada para siswa tentang  akhlak  yang mulia. Karena jika mereka memiliki pengetahuan tentang akhlak yang mulia dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu menjadi mudah untuk diatur dan dibina. Kedua, sekolah harus memiliki peraturan dan tata tertib yang jelas dengan sangsi-sangsinya, lalu disosialisasikan kepada siswa dan orang tua siswa. Jika perlu, orang tua dilibatkan dalam pembuatan tata tertib dan peraturan tersebut, sehingga mereka juga ikut mengawasi anak-anaknya agar tidak melanggar tata tertib dan peraturan tersebut. Ketiga, kepala sekolah dan guru harus dengan tegas menind`aak  para siswa yang melanggar peraturan sesuai dengan sangsi yang telah ditetapkan. Keempat, bila terjadi kejanggalan pada siswa, orang tua segera dipanggil agar bisa menasehati anaknya. Kelima, hukuman fisik sebaiknya dihindari, tetapi diganti dengan hukuman yang lebih mendidik, seperti menghapalkan juz amma, menghapal kosa kata bahasa Inggris, menulis karangan dengan bahasa Inggris dan sebagainya. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: