Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Karakteristik Jiwa Yang Tenang

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:16 am

Allah swt. Berfirman dalam surat Al-Fajr: 27-30:

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Fajr: 27-30)

Aya di atas secara jelas menggambarkan bahwa ada empat ciri utama dari jiwa yang tenang, yaitu:

1. Ridha (radhiyah)

Yaitu rela dengan kebaikan merata dan karunia besar yang diberikan oleh Allah kepadanya ketika ia bisa mengakhirinya dengan baik. Dia memberikan ganjaran, kemuliaan dan karunia-Nya dan Dia mengarahkan panggilan kepadanya.

2. Diridhai (mardhiyah)

Ia berhasil mendapatkan keridhaan Allah yang ia dapatkan karena ketaatan dan tauhidnya. Ridha Allah adalah tujuan utamanya yang tidak ada lagi tujuan lain setelahnya. Bahkan keridhaan Allah menempati posisi yang istimewa dan lebih berharga dari nikmat yang diberikan secara terus-menerus kepadanya. Al-Qur’an di tempat lain telah menjelas­kan bahwa posisi ini tidak akan dicapai kecuali dengan takut kepada Tuhannya. Dia berfirman di akhir surat Al-Bayyinah:

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (Al-Bayyinah: 8)

3. Ia masuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh.

Ini adalah pengistimewaan lain bagi jiwa yang tenang yaitu dengan ditempatkannya di antara mereka yang sejenis dan sebanding dengannya, dan juga dengan dimaksukkannya mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang beribadah secara ikhlas kepada Allah. Penghargaan seperti ini adalah sesuatu yang akan terus bertambah dan diperbaharui.

Bertambah adalah karena banyaknya kelompok dan semakin bertambahnya anggota-anggota yang dalam timbangan kemuliaan mempunyai nilai yang lebih. Lalu bagaimana jika dasar perkumpulan dan kebersamaan tersebut adalah duduk di atas hamparan penghambaan dengan naungan payung Tuhan yang mulia dan berada di hadapan hidangan karunia dari Allah Yang disembah.

Adapun keberadaannya yang terus diperbaharui adalah karena setiap kali jiwa diberikan nikmat ketenangan, ia dipanggil dengan panggilan yang mulia untuk masuk ke golongan hamba-hamba-Nya yang saleh. Yang demikian itu adalah penghormatan bagi karakteristik-karaktersitik di mana jiwa-jiwa yang tenang dikumpulkan dan ia menyenangi karakteristik-karakteristik yang baik dalam masalah iktiqad dan penghambaan. Makna ini ditegaskan oleh ayat Al-Qur’an lain yaitu firman-Nya:

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benAr-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.” (Al-Ankabut: 8)

4. Ia termasuk penghuni surga

Ini adalah bentuk pengistimewaan Allah terhadap jiwa dari jenis ini. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan3:

“Sebenarnya jiwa yang tenang ini berlaku umum bagi semua jiwa orang-orang yang beriman, ikhlas dan taat”

Sedangkan Hasan Al-Bishri berkata:

“Jika Allah berkehendak untuk mencabut ruh hamba-Nya yang beriman, maka Dia menjadikan jiwa tersebut tenang menghadap Allah dan Allah juga tenang menyambutnya.”4

Sementara itu Amr bin Ash berkata:

“Jika orang mukmin diwafatkan, maka Allah kemudian mengutus dua malaikat kepadanya dan Dia juga mengirim bersama dua malaikat tersebut apel dari surga dan keduanya berkata kepadanya, ‘Keluarlah wahai jiwa yang tenang dalam keadaan rilda dan diridhai. Keluarlah ketenteraman (rauhun) dan rezki (raihan), kepada Tuhan Yang ridha dan tidak marah’ Setelah itu ia keluar dengan harum semerbak sampai-sampai salah seorang dari dua malaikat tersebut mencium tanah.”

Setelah menunjukkan sifat-sifat yang empat ini, kita akan mengajukan teks yang berupa hadis nabi yang menjelaskan beberapa karakteristik mendasar dari jiwa yang tenang. Ibnu Katsir telah mengutip dalam tafsirnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada seseorang:

“Katakanlah, ‘Ya Allah, saya memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, dan beriman dengan pertemuan dengan-Mu, rela dengan qadla’-Mu, serta menerima pemberian-Mu.”

– Beriman terhadap perjumpaan dengan Allah—yaitu iman terhadap pembangkitan—adalah sesuatu yang paling berperan dalam membangkitkan ketakutan pada hati orang mukmin.

– Ridha dengan qadla’ adalah kunci media paling baik untuk mendekatkan antara Tuhan dengan hamba, merupakan dalil bagi penerimaan yang mutlak terhadap Allah serta bisa menggugurkan tabir penghalang dengan Allah

– Menerima segala pemberian adalah sesuatu yang bisa mem­bangkitkan kedamaian jiwa orang mukmin dan merupakan dasar  kehidupan orang Muslim bersama orang lain, tanpa melihat apa yang ada di tangan mereka dan tanpa ada kedengkian terhadap mereka.

Dari berbagai pendapat para ulama, bisa diambil kesimpulan bahwa jiwa yang tenang mendapatkan ketenangannnya dari berbagai sisi:

1. Ia mendapatkan ketenangannya dari keridhaan Allah terhadap dirinya, sedangkan ridha Allah adalah tujuannya yang paling tinggi.

2. Ia mendapatkan ketenangannya dari janji Allah terhadapnya dengan balasan yaitu kenikmatan yang abadi, “Masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke surga-Ku”. Ia menjadi tenang karena ia dijanjikan surga ketika ia meninggal, dibangkitkan dan pada saat dikumpulkan.

3. Ia mendapatkan ketenangannya dari keberadaannya yang mentauhidkan Allah dan menjadikannya sebagai tujuan ibadah satu-satunya. Allah telah menjanjikannya—dan Allah adalah Yang Paling menepati janjinya:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-’An`am: 82)

Dalam ayat ini keamanan terbatas hanya bagi orang-orang yang bertauhid yaitu pembatasan jalan pengajuan. Tidak ada keamanan kecuali bagi mereka, dan tidak ada ketenangan kecuali bagi jiwa-jiwa mereka.

4. Ia mendapatkan ketenangannya karena ingat kepada Allah:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra`du: 82)

Mengingat Allah akan membawa ketengan di hati orang-orang yang beriman sebagai hasil dari penerimaan dan keimanan  dengan hal-hal yang tidak nampak.

Jadi, kita bisa menemukan tanda-tanda ketenangan pada diri manusia dalam jiwa-jiwa sebagai berikut:

1. Jiwa yang menyesali diri (Al-lawwamah)…mendapatkan petunjuk (Al-muhtadiyah)…serta saleh (ash-shalihah)

2. Jiwa yang alim (Al-Barah)…yang baik (Al-Khairah)…yang bersyukur (asy-syakirah)

3. Jiwa yang adil (Al-‘adilah)…yang bisa dipercaya (Al-aminah)…yang tulus (Al-wafiyah)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: