Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Jangan Menjadi Seperti Ikan Lele

Filed under: UMUM — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:10 am

Jangan Menjadi Seperti Ikan Lele

Saya adalah orang yang dari dulu senang  memelihara ikan. Dari kecil saya telah terbiasa memelihara ikan, baik di kolam yang besar maupun kecil. Mungkin karena saya hidup di kampung yang airnya cukup mudah didapat, sehingga ikan mudah dibudidayakan di tempat saya. Di antara ikan yang pernah saya budi dayakan adalah ikan lele dan gurami. Setiap tahunnya saya bisa memelihara sekitar 25.000 hingga 50.000 ekor lele  dan 10.000 ikan gurami. Baru setelah saya pindah ke Malang, hobi saya membudidayakan ikan itu tidak tersalurkan lagi karena tidak adanya lokasi untuk membudidayakannya. 

Di antara kebiasaan ikan lele adalah suka melompat di tempat yang ada suara gemerincing air. Setiap ada air yang menetes dari suatu tempat, misalnya pipa atau saluran air, maka dia akan berkumpul di tempat itu dan berusaha untuk melompat ke atas karena beranggapan bahwa di atas pasti ada air yang lebih baik dan lebih jernih, meskipun dia tidak tahu bahwa yang ada di atas sebenarnya bukan genangan air, tetapi justru tanah kering yang tidak berair.

Pernah suatu hari, saya menaruh beberapa ikan lele ke dalam ember dengan sedikit air agar tidak melompat. Supaya tidak mati, maka kita beri sedikit aliran air ke dalam ember melalui kran meskipun hanya menetes saja.  Setelah itu kita tinggal pergi ke sekolah. Sepulang dari sekolah, semua ikan lele tersebut sudah mati di atas tanah karena melompat keluar dari ember. Mungkin mereka beranggapan, jika ada air menetes dari atas, pasti di atas ada air yang lebih besar dan lebih segar daripada air ember yang ditempatinya. Akhirnya mereka melompat dari ember. Begitu melompat ternyata bukannya air yang didapat, tetapi justru tanah kering yang tidak berair, sehingga mereka semua mati kehausan.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari nasib ikan lele di atas adalah bahwa kita harus bisa mensyukuri apa yang ada pada kita pada saat ini. Sebagai manusia, biasanya kita menganggap bahwa nasib orang lain selalu lebih baik daripada nasib kita. Kita selalu beranggapan bahwa rumput tetangga lebih hijau daripada rumput kita sendiri. Orang jawa bilang, hidup adalah sawang-sinawang. Kita melihat sepertinya tetangga kita hidupnya enak, pakaiannya bagus, kendaraannya mewah dan sebagainya, tetapi pada hakikatnya kita tidak tahu bahwa dia sedang kalang kabut dirundung hutang atau dikejar-kejar KPK, setelah itu bangkrut dan dipenjara.

Seperti memakai baju, ketika kita melihat baju baru dipakai oleh seseorang yang cantik atau tampan, kita mengataka,  alangkah bagus dan indahnya baju itu, padahal kita tidak tahu bahwa sebenarnya baju itu panas dan mungkin gatal ketika dipakai dan orang yang memakainya itu sebenarnya ingin segera melepasnya.

Sebagai dosen atau guru di suatu lembaga pendidikan, biasanya kita juga sering mengeluh bahwa nasib kita kurang sejahtera dibandingkan dengan kampus atau lembaga pendidikan sebelah. Kita menganggap kesejahteraan kita selalu kurang bila dibandingkan dengan mereka, sehingga kita ingin berbondong-bondong pindah kesana. Tetapi sesaat kemudian kita melihat, banyak lembaga-lembaga itu yang gulung tikar dan macet karena tidak memiliki mahasiswa atau murid.

Sebagai pegawai selalu beranggapan bahwa bagian tertentu seperti bagian keuangan kelihatan lebih basah daripada bagian lainnya, sehingga banyak orang yang ingin segera pindah ke bagian itu. Padahal kita tidak tahu bahwa tugas dan tanggung jawab mereka sangat besar dan sulit. Setiap hari mereka harus lembur dan bahkan banyak yang mengeluh karena beban kerja yang menumpuk. Banyak di antara mereka yang ingin segera dipindah ke bagian yang lebih ringan tugasnya, sehingga mereka bisa bersantai dengan keluarga dan teman-teman.

Sebagai mahasiswa, terutama di UIN Maliki Malang, banyak yang beranggapan bahwa di UB, UM dan perguruan tinggi lain lebih baik karena begini dan begitu. Tetapi begitu diselami, ternyata sama saja, mungkin apa yang tampak dari luar hanyalah gebyarnya saja yang kelihatan bagus, karena kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

Seperti Gunung Putri  Tidur di daerah pegunungan Batu Malang, yang kelihatan begitu indah seperti gadis cantik yang sedang tidur telentang jika dilihat dari jauh, terutama dari desa Gasek tempat saya tinggal. Tetapi begitu kita dekati gunung itu, ternyata di dalamnya ada lembah dan jurang yang curam dan berbahaya. Bisa-bisa kita jatuh di dalamnya dan meninggal dunia jika kita tidak berhati-hati dalam mendakinya. Berapa banyak para pendaki gunung Putri Tidur yang telah tewas dan tersesat karena ingin menikmati  keindahan gunung Putri Tidur tersebut.

Akhirnya sekali lagi perlu saya tegaskan bahwa kita harus selalu bersyukur dengan apa yang ada. Seperti kata Demasive dalam syair lagunya, “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini dan lakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan, kebesaran dan kuasanya, bagi hamba-Nya yang sabar dan tak pernah putus asa…jangan menyerah… dan jangan menyerah… Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: