Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Jangan Kau Mati Sia-sia Wahai Kawan

Filed under: UMUM — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:13 am

Di zaman modern sekarang ini, akibat pengaruh teknologi dan informasi, telah banyak terjadi perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat kita, dari masyarakat yang dulunya agamis dan etis, menjadi masyarakat yang hedonis dan sangat mementingkan kehidupan duniawi. Tujuan hidup mereka juga semakin tidak menentu. Sesuatu yang dulunya dianggap tabu, sekarang dianggap biasa dan bahkan dianggap ketinggalan zaman jika tidak melakukan sesuatu yang tabu. Keadaan seperti ini, menjadikan tujuan hidup manusia, menuju kepada sesuatu yang tidak jelas. Kemana mereka akan menuju dan akhir seperti apa yang mereka inginkan, bukan sesuatu yang mereka pedulikan. Banyak orang yang berprinsip, “masa kecil bahagia, masa remaja hura-hura, masa tua kaya raya dan mati masuk surga”. Akan tetapi jalan yang mereka tempuh tidak sejalan dengan apa yang mereka inginkan.

Di samping itu, banyak pula di antara kita yang melakukan perbuatan baik, dengan beramal shaleh, membagi-bagikan sembako, membagi-bagikan uang kepada masyarakat, menyumbang masjid dan sebagainya, tetapi tidak untuk akhirat, melainkan untuk kepentingan politik sesaat, yang justru bertentangan dengan ajaran Islam, karena masuk di dalamnya unsur suap-menyuap.

Ada satu kisah menarik dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Lukman Hakim, tentang seseorang yang kelihatannya shaleh secara sosial dan gigih dalam melaksanakan peperangan hingga meninggal di medan perang. Para sahabat kagum dengan kebaikan dan keberaniannya dalam berjihad di jalan Allah, tetapi dia dicap oleh Rasulullah bukan termasuk penghuni surga, karena ternyata dia berjihad bukan untuk Allah, tetapi untuk sesuatu yang bernuansa duniawi, yaitu menjaga kehormatan suku dan bangsanya. Kisah tersebut adalah sebagai berikut:

Suatu hari ada sebuah pertempuran hebat antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan sengit untuk mengalahkan satu sama lain. Saat pertempuran itu berhenti, langsung kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.

Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membicarakan tentang pertempuran yang telah terjadi itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang betul di mata mereka. Dalam pembicaraan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka yaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar menerkam mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah bibir ketika itu.

“Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman,” kata salah seorang sahabat.

Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, “Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka.”

Para sahabat menjadi heran mendengar jawaban Rasulullah itu. Bagaimana mungkin, seseorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam malah masuk kedalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain setelah mendengar jawaban Rasulullah itu.

Rasulullah menyadari bahwa para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda bersabda, “Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, dan ketika mata pedang tersebut diarahkan ke dadanya. Lalu dia menusukkan mata pedang itu ke dadanya.”

“Dia melakukan perbuatan itu karana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana melawan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, banyak orang akan menyangka dia masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka.”

Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, “Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan berperang.”

Diriwayatkan oleh Luqman Hakim

Riwayat di atas menggambarkan bahwa suatu amal perbuatan yang baik, manakala tidak diniatkan untuk kebaikan dan karena Allah, tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali kesia-siaan. Setiap amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi, bisa bernilai ganda. Jika diniatkan untuk Allah akan membuahkan hasil yang bermanfaat di dunia dan akhirat, tetapi jika hanya diniatkan untuk kepentingan dunia, maka mungkin akan membawa kepada kebaikan dunia, tetapi tidak memberi manfaat apa-apa untuk kebaikan di akhirat. Sebaliknya, jika keadaan buruk menimpa kita akibat perbuatan itu, maka bisa jadi kita akan mendapat dua kerugian secara bersama-sama, yaitu rugi di dunia dan juga rugi di akhirat. Karena itu, jangan engkau jadikan hidupmu sia-sia wahai kawan… Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: