Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Istiqamah dalam Beramal

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:07 am

Salah satu ajaran Islam yang sangat sulit untuk dilakukan oleh setiap orang adalah istiqamah. Kata ini sangat sederhana dan mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Menurut Islam, amal yang baik adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus atau istiqamah walaupun sedikit. Sebagian besar kita, melakukan sesuatu bersifat musiman. Pada awal-awal kegiatan, program atau kerja, mereka melakukannya dengan giat, cepat dan banyak. Tetapi begitu menginjak minggu kedua, semangat sudah mulai menurun, volume berkurang dan kualitas dipertanyakan.

Karena sulitnya berbuat sesuatu secara istiqamah ini, maka Rasulullah saw. Bersabda,

“Sebaik-baik amal perbuatan itu adalah yang dilakukan secara terus-menerus (istiqamah) walaupun sedikit”. (hadits)

Melakukan sesuatu secara istiqamah tidak perlu tergesa-gesa, banyak, atau melampaui batas kemampuan kita. Dalam hal ini  Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (Hud: 112)

Ayat di atas menggambarkan bahwa dalam beramal di jalan yang benar, harus dilakukan dengan jalan yang benar, istiqamah dan tidak boleh melampaui batas. Banyak di antara kita yang dalam melakukan ibadah misalnya, tidak bisa melakukannya secara istiqamah. Ketika sedang memiliki hajat tertentu, dia kelihatan sangat rajin sekali beribadah, hingga bangun semalam suntuk untuk beribadah. Tetapi pada malam berikutnya, dia tidak bangun malam lagi karena hajatnya telah terkabulkan. Perbuatan semacam ini bukannya tidak baik, tetapi kurang afdhal, karena beramal yang baik adalah amalan yang dilaksanakan secara terus-menerus walaupun sedikit, seperti yang difirmankan Allah berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (Al-Ahqaf: 13).

Allah mengajarkan bahwa dalam bertauhid pun diperlukan istiqamah, karena banyak sekali godaan dan cobaan orang-orang yang beriman. Mungkin di satu waktu kita bisa menahan godaan itu, tetapi di waktu yang lain, tatkala iman kita sedang turun ke bawah, maka bisa jadi kita goyah dan mengalami ketergelinciran, baik dalam akidah maupun ibadah. Karena itu, ketika Rasulullah saw. Diminta oleh salah seorang sahabatnya untuk memberikannya nasehat, maka beliau mengatakan dalam haditsnya:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

“Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi berkata, ‘Saya berkata kepada Rasulullah ‘Katakan kepadaku wahai Rasulullah di dalam Islam tentang suatu perkataan yang saya tidak lagi bertanya kepada orang lain sesudahmu.’ Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah, ‘Saya beriman kepada Allah, lalu beristiqahmahlah.” (Muslim).

Hadits di atas menggambarkan bahwa menjaga iman agar tetap istiqamah merupakan hal penting dalam kehidupan seorang mukmin, karena keimanan kita terkadang berkurang dan terkadang pula meningkat. Mentabilkan iman dalam derajat tertentu memang sulit dilakukan kecuali oleh orang-orang yang dapat istiqamah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya. Karena itu, ketika Rasulullah diminta oleh seorang sahabat untuk memberinya nasehat dengan satu kata yang dapat mewakili semua amal perbuatan lainnya, maka Rasulullah memilih kata “istiqamah” untuk mewakilinya. Ini menunjukkan bahwa istiqamah merupakan hal penting dalam kehidupan kita bersama. Dalam hadits lain juga diriwayatnya bahwa Rasulullah saw. Bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَخْلَصَ فَلْبَهُ لِلْإِيْمَانِ وَجَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَنَفْسَهُ مُطْمَئِنَّةً وَخَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً

“Beruntunglah orang yang menjernihkan hatinya untuk beriman, menjadikan hatinya suci, lidahnya jujur, jiwanya tenang, dan akhlaknya lurus.” (Ibnu Hibban).

Menjalankan sesuatu secara istiqamah, tidak saja dianjurkan dalam masalah ibadah, tetapi juga dalam masalah keduniaan, bisnis, wurausaha, bekerja dan sebagainya, perlu dilakukan secara istiqamah. Salah satu faktor yang menyebabkan umat Islam banyak yang gagal dalam menjalankan bisnis mereka adalah karena mereka tidak istiqamah dalam berbisnis. Contoh kecil Istiqamah dalam berbisnis bisa dilihat dari kedisiplinan seseorang dalam menjaga waktu buka toko. Jika seseorang tidak istiqamah dalam membuka tokonya, maka dengan sendirinya akan ditinggalkan oleh para pelanggan. Jika dia telah mengumumkan bahwa setiap hari dia buka jam 09 pagi sampai jam 09 malam, maka pada jam itu mereka harus sudah buka. Jika mereka tidak istiqamah, dengan membuka dan menutup toko seenaknya sendiri, hari ini buka jam enam, besok jam tujuh, besoknya lagi tutup, dan seterusnya, maka dapat dipastikan bisnisnya akan segera tutup karena para pelangganny akan lari. Hal itu terjadi karena dia tidak istiqamah dalam menjalankan bisnisnya.

Saya pernah membaca dalam berita bisnis di sebuah surat kabar, bahwa Jepang dan negara-negara barat pada umumnya, enggan menerima barang-barang impor dari Indonesia, karena kebanyakan eksportir Indonesia, tidak istiqamah dalam menjaga kualitas dan kedisiplinan kerja. Kadang-kadang barang ada tetapi kualitasnya menurun, kadang-kadang kualitas bagus tetapi barang tidak ada atau waktu pengiriman telat dan sebagainya. semua itu menjadikan para investor asing enggan berbisnis dengan bangsa Indonesia karena kita dianggap tidak istiqamah dalam menjalankan usaha.

Saya kira, semua urusan  dalam kehidupan kita, perlu dilakukan secara istiqamah, apapun bentuknya. Karena jika sesuatu dilakukan secara istiqamah meskipun sesuatu itu kecil dan sedikit, pasti akan membawa hasil yang lebih besar. Semoga kita semua dapat melaksakan tugas-tugas kita, usaha kita, dan semua aktivitas kita sehari-hari secara istiqamah, sehingga apa yang kita cita-citakan dalam hidup ini dapat tercapai. Amin ya rabbal alamin.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: