Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

ISLAM RASIONAL: DILEMA ANTARA AKAL DAN WAHYU

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:04 am

Ketika Rasulullah masih hidup, semua permasalahan yang ditemui oleh para sahabat, ditanyakan langsung kepada beliau dan beliau menjawabnya secara langsung, baik melalui wahyu yang diturunkan maupun hadits-hadits beliau. Dengan jawaban itu, para sahabat menjadi tenang dan mereka menerima jawaban Rasulullah itu dengan mengatakan, “Sami’na wa atha’na”.

Tetapi ketika Rasulullah wafat dan Islam telah menyebar ke berbagai penjuru dunia yang luas, muncul masalah-masalah baru yang belum ditemui sebelumnya pada masa beliau. Sebagian dari kaum muslimin tetap merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta tidak berani menjawab sesuatu yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunnah, tetapi sebagian lain mencoba menjawab masalah-masalah baru itu dengan pendapat mereka sendiri. Pada saat itulah, mulai muncul pendapat-pendapat para ulama tentang suatu masalah, yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kelompok ini kemudian disebut dengan kelompok Ahli Ra’yu atau Islam Rasional.

Pada awalnya akal atau rasio dalam Islam, digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah yang masih belum jelas dalam ajaran Islam dan berusaha memahaminya agar ajaran Islam yang tadinya dianggap tidak masuk akal, setelah dijelaskan dengan cara-cara yang rasional, bisa diterima oleh akal. Misalnya, ajaran-ajaran Islam yang berhubungan dengan sam’iyyat, seperti masalah surga, neraka, hisab, akhirat dan sebagainya.  Akan tetapi, setelah berjalan lama akhirnya muncul orang-orang dari kelompok ini yang mulai berani mempertanyakan kebenaran ajaran Islam itu sendiri. Mereka tidak lagi mencoba memahami ajaran Islam untuk dihayati dan diamalkan, melainkan mempertanyakan tentang kebenaran dan keotentikan wahyu dan sumber-sumber Islam itu sendiri.

Kelompok inilah yang kemudian keluar dari khithahnya, dari menggunakan akal sebagai penjelas wahyu menjadi mempertanyakan kebenaran wahyu. Mereka telah meletakkan akal sejajar dengan wahyu atau berada di atas wahyu. Ayat-ayat Al-Qur’an atau Hadits-hadits Rasulullah yang tidak selaras dengan akal mereka tolak, karena menurut mereka bahwa tanpa agama akal dapat mengetahui kebenaran.

Sejarah munculnya Islam rasional memang cukup panjang dalam Islam, mungkin sepanjang usia Islam itu sendiri. Pada masa Rasulullah sendiri, sebenarnya telah banyak pertanyaan-pertanyaan para sahabat yang mencoba untuk memahami Islam secara rasional, akan tetapi karena kepatuhan mereka kepada Allah dan Rasulnya, menjadikan mereka hanya mengatakan sami’na wa atha’na ketika permasalahan mereka dijawab oleh Rasulullah.

Di samping itu, Islam sendiri memang mengajarkan kepada umat Islam agar mereka senantiasa menggunakan akal dan rasio mereka dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam memahami ciptaan Allah dan kebesaran-Nya.  Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mengajak umat Islam agar mereka berpikir, seperti: “Apakah kalian tidak berpikir? Apakah kalian tidak melihat? Dan sebagainya.

Dalam teologi, adanya Islam rasional ditandai dengan munculnya kelompok Mu’tazilah yang mempertanyakan tentang letak orang mukmin yang berbuat dosa besar. Dimana dia diletakkan? Di surga atau di neraka? Menurut mereka, seorang mukmin yang berbuat dosa besar tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga karena dia telah berbuat dosa besar dan tidak pula dimasukkan ke dalam neraka karena dia beriman. Karena itu, menurut Mu’tazilah orang mukmin yang berbuat dosa besar akan diletakkan di antara dua tempat itu atau yang mereka sebut dengan “manzilah baina manzilatain”. Dengan munculnya kelompok Mu’tazilah ini, posisi akal menjadi sangat tinggi, yang kadang disejajarkan dengan wahyu atau bahkan melebihi wahyu.

Di Indonesia, Islam rasional memiliki banyak bentuk, sebagian ada yang ekstrim dan sebagian lainnya bersifat lunak. Mereka yang mengambil jalan rasional lunak menjadikan rasio sebagai penjelas wahyu sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulunya. Mereka menjadikan akal sebagai penjelas wahyu dengan berbagai macam caranya, baik melalui berpikir rasional maupun dengan melakukan penelitian-penelitian ilmiah tentang alam semesta yang digunakan untuk menjelaskan ajaran Islam. Mazhab Islam rasional seperti inilah yang mungkin paling selamat dibandingkan yang lainnya.

Adapun mereka yang mengambil jalur ekstrim, menjadikan rasio sebagai pembuat keputusan mutlak, maka mereka mendapat banyak kutukan dari berbagai pihak, terutama mereka yang tidak setuju menempatkan akal di atas wahyu. Jama’ah Islam Liberal, pernah menjadi salah satunya. Meskipun gaung JIL pada saat ini hanya terdengar sayup-sayup, tetapi keberadaan mereka pernah mengguncangkan bumi Indonesia, hingga menimbulkan banyak kontroversi dan dialog panjang antara mereka dan para penentangnya.

Almarhum Nurcholish Madjid juga pernah dituduh sebagai penganut faham Islam Rasional ini, sehingga banyak juga para “musuhnya” yang mengafirkannya, karena beliau telah mengemukakan beberapa ide yang kontroversial dalam Islam, seperti mengubah terjemahan kalimah syahadat dari “Tidak ada tuhan kecuali Allah” menjadi, “Tidak ada tuhan kecuali Tuhan”.

Menurut saya, Islam memang tidak melarang untuk menggunakan akal sebagai sarana untuk berpikir dan Allah sendiri banyak sekali menganjurkan dalam Al-Qur’an agar umat Islam menggunakan akalnya. Akan tetapi anjuran Islam untuk menggunakan akal adalah dalam rangka untuk memahami ciptaan Allah untuk memahami dan mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi. Karena itu, dengan memahami alam semesta, seharusnya manusia semakin dekat dengan Allah, bukannya semakin jauh seperti yang terjadi pada kebanyakan manusia dewasa ini.   Wallahu a’lam.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: