Munirulabidin's Blog

May 8, 2010

Ciri-ciri Nafs Al-Lawwamah

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 3:14 am

Allah swt. Berfirman dalam Al-Qur’an:

“Aku bersumpah dengan hari kiamat. dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (Al-Qiyamah: 1-2)

Sumpah Allah pada ayat di atas untuk memberikan kesan bahwa masalah jiwa lawwamah ini benar-benar sangat istimewa di sisi Allah. Dalam kitab-kitab tafsir bil-ma’tsur ada banyak pendapat mengenai jiwa lawwamah ini. Di antaranya adalah pernyataan Hasan Al-Bashri: “Demi Allah, orang yang beriman tidak akan kamu lihat menyalahkan selain dirinya sendiri, ‘Apa yang sebenarnya saya inginkan dengan kalimat saya,  apa yang saya inginkan dengan makanan saya,  apa sebenarnya yang saya iginkan dengan detak hati saya..!? Sedangkan orang jahat berjalan tanpa pernah menyalahkan dirinya.

Hasan Al-Bashri juga berkata, “Tidak ada penduduk langit dan bumi kecuali ia mencaci dirinya pada hari kiamat.”

Dari Ikrimah, “Dirimu akan selalu mencela kebaikan dan kejelekan jika kamu melakukan ini dan itu.

Dari Mujahid, “Ia akan menyesali apa yang ia tinggalkan dan ia mencaci dirinya

Jarir berkata, “Semua pandangan ini saling berdekatan maknanya dan yang paling dekat dengan pengertian tekstualitas ayat adalah bahwa jiwa seperti ini mencaci pemiliknya ketika ia berbuat baik atupun berbuat jahat serta menyesali apa yang ia tinggalkan.

Dalam memaknai jiwa lawwamah ini kita bisa memilih pandangan dari Hasan Al-Bashri: “Demi Allah, orang yang beriman tidak akan kamu lihat selain menyalahkan dirinya sendiri, ‘Apa yang sebenarnya saya inginkan dengan kalimat saya,  apa yang saya inginkan dengan makanan saya,  apa sebenarnya yang saya iginkan dengan detak hati saya..!? Sedangkan orang jahat berjalan tanpa pernah menyalahkan dirinya.

Itulah jiwa lawwamah, yaitu jiwa yang sadar, taqwa, takut, selalu prihatin, selalu melakukan introspeksi diri, selalu melihat ke sekitarnya, selalu mencari kejelasan mengenai hakikat dari keinginannya, menghindari untuk menipu dirinya. Ia adalah jiwa yang mulia di sisi Allah sehingga Dia menyebutkannya bersamaan dengan fenomana hari kiamat. Ia adalah gambaran sebaliknya dari jiwa fajirah yaitu jiwa manusia yang selalu ingin untuk berbuat kedurhakaan dan selalu melangkah dalam kedurhakaan, yang selalu melakukan kebohongan, menguasai dan melangkah dengan bebas tanpa sedikitpun melakukan introspeksi diri dan tanpa sedikitpun ada rasa penyesalan, rasa berdosa dan ia sama sekali tidak peduli.

Kata Lawwamahini adalah bentuk mubalagah (hiperbolis) dari kata laum yang maksudnya adalah mencela dan menyalahkan secara berlebihan. Yang dimaksudkan dengan istilah lawwamah adalah banyak mencela pemiliknya. Celaan dari jiwa seperti ini terhadap pemiliknya mengarah kepada dua jalan yaitu:

Pertama, dengan mendorong pemiliknya untuk introspeksi atas perbuatan jelek yang pernah ia perbuat, seperti melakukan suatu perbuatan maksiat, menyakiti orang yang tidak seharusnya, atau menghukumnya dengan hukuman yang berlebihan. Penyesalan yang keras ini bisa membangkitkan pemiliknya untuk bertaubat dan akan mebawannya untuk kembali dari jalan yang orang-orang yang tidak beriman, serta mengarah kepada Allah untuk memperbaiki apa yang belumnnya ia lalaikan serta meminta maaf atas apa yang ia lakukan dari perbuatn-perbutan jahat.

Kedua, Mengajak kepada pemiliknnya untuk introspeksi atas kelalaiannya dalam melakukan perbutan yang baik. Introspeksi ini mempunyai dua sisi:

1. Introspeksi atas kelalaian terhadap amal saleh seperti menginggalkan sedekah terhadap orang-orang miskin, melalaikan anak yatim, atau tidak mau peduli terhadap kesulitan orang-orang yang mebutuhkan bantuan. Jiwa ini dengan penyesalannya atas kelalaian dalam dasar perbuatan yang baik akan melalui jalan satu perilaku kepada perilaku yang lain yang lebih baik, dan akan menganjurkannya untuk kuat dan konsisten untuk tetap melakukan perbuatan ketaatan dan segera melakukan perbuatan baik.

2. Introspeksi atas kekuarangan dalam memperbanyak perbutan baik seperti penyesalannya atas sedekah dengan jumlah yang sedikit, penyesalannya yang hanya memberikan makan kepada satu orang fakir, tidak dua atau lebih, penyesalannya karena hanya menjamui seeorang dalam waktu yang singkat dan tidak lama, demikian seterusnya.

Apakah lawwamah (selalu menyesali diri) itu adalah sifat yang tercela?

Ada pendapat yang mengatakan bahwa selalu menyesal (lawwamah) adalah sesuatu yang tercela dan tidak terpuji.

Pandangan ini disandarkan kepada hadits riwayat Qatadah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu seperti yang dikutip oleh Asy-Syaukani dalam tafsirnya. Dasar dari pandangan ini mengatakan bahwa laum berasal dari kata talawwum yaitu kebimbangan karena ia tidak tetap dalam satu kondisi, atau bahwa kata lawwamah maksudnya adalah mulawaamah (yang dicela).

Pandangan ini sebenarnya membuka celah baru yang bermanfaat dalam masalah ini. Karena itu, Imam Ibnu Qayyim bersikap moderat dalam hal ini dan tidak mengatakan bahwa jiwa lawwamah ini selamanya bisa dikatakan terpuji atau tercela, akan tetapi yang demikian itu ditentukan oleh apa yang ia cela. Jika yang dicela adalah kebaikan itu artinya bahwa ia adalah jiwa yang jelek, sebaliknya jika yang ia cela adalah kejahatan maka ia adalah jiwa yang baik.7

Jadi, ia adalah jiwa yang berbolak-balik antara kebaikan dan kejahatan. Ia adalah jiwa yang menyadari akan usaha antara yang ini dan yang itu. Jiwa yang berada dalam posisi menengah antara kecenderungan untuk berbuat jelek, memilih untuk berjalan pada jalan yang sesat, terjebak pada kedzaliman, terjatuh pada dosa, lebih memilih untuk menghadapi akibat-akibat dari kerugian dan kejahatan, dengan jiwa tenang yang merupakan tingkatan jiwa yang paling tinggi karena pada tingkatan ini jiwa merasa damai dan tenang. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh imam Asy-Syaukani:

“Ia tidak bisa dikatakan sebagai jiwa yang baik atau durhaka melainkan jiwa yang selalu menyesali diri. Jika ia berbuat baik ia berkata, ‘Mengapa saya tidak tambahkan!’ Sedangkan jika ia berbuat jahat ia mengatakan, ‘Seandainya saya tidak melakukannya”

Adapun gambaran dengan ilham dalam posisi memilih sebagaimana yang dapat kita baca pada firman Allah:

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Asy-Syams: 8)

Maksudnya adalah bahwa pilihan ini terlaksana dengan kehendak Allah dengan memberikan kesiapan bagi hamba-Nya untuk melakukan pilihan. Sebab bagaimanapun Allah telah mempersiapkan jiwa dengan segala potensi yang Dia ciptakan baginya dan juga dengan pilihan dan usaha hamba terhadap apa yang ia pilih. Dalam kitab Musnad Ahmad Radhiyallahu ‘Anhu. diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau pernah bersabda:

مَا مِنْ خَارِجٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ إِلَّا بِبَابِهِ رَايَتَانِ رَايَةٌ بِيَدِ مَلَكٍ وَرَايَةٌ بِيَدِ شَيْطَانٍ فَإِنْ خَرَجَ لِمَا يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اتَّبَعَهُ الْمَلَكُ بِرَايَتِهِ فَلَمْ يَزَلْ تَحْتَ رَايَةِ الْمَلَكِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ وَإِنْ خَرَجَ لِمَا يُسْخِطُ اللَّهَ اتَّبَعَهُ الشَّيْطَانُ بِرَايَتِهِ فَلَمْ يَزَلْ تَحْتَ رَايَةِ الشَّيْطَانِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ

“Tidaklah seseorang yang keluar (dari rumahnya) kecuali di pintunya telah ada dua bendera, satu bendera ada di tangan malaikat dan bendera yang lain berada di tangan syetan. Jika ia keluar untuk sesuatu yang dicintai oleh Allah maka malikat mengikuti dengan bendera di tangannya dan ia selalu berada dalam bendera malaikat itu sampai ia kembali ke rumahnnya—dan jika ia keluar untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah, maka syetan mengikuti dengan benderanya dan ia selama itu berada dalam bendera syetan sampai ia kembali ke rumahnya” (HR. Ahmad)

Ada beberapa orang yang menganggap jiwa lawwamah adalah jiwa yang diberikan ilham “mulhimah” yaitu diberikan ilham kebaikan dan kejahatan. Dalam pilihannya ia berkisar antara dua hal tersebut sesuai dengan perbedaan situasi kehidupan, dan sesuai dengan kecenderungan terhadap petunjuk atau kesesatan yang menjadi alternatif baginya, serta sesuai dorongan dan kekaguman yang menariknya. Inilah ta’wil dari ayat-ayat Al-Qur’an yang semua mencakup pengertian ini.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 7-10)

Di sini Allah Sang Pencipta menyebutkan bahwa Dia telah menyempurnakan penciptaan jiwa ini, yaitu menciptakannya dalam keadaan normal dan konsisten di atas fitrah dasar yang kuat. Ini sebagaimana yang terdapat dalam hadis yang muttafaq ‘alaih (disepakati) dari riwayat Abu Hurairah:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, sehingga kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana binatang (yang sehat) melahirkan binatang (yang sehat), apakah kalian merasakan adanya kecacatan pada hidungnya?’ (Muttafaq Alaih)

Di dalam shahih Muslim diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau pernah berabda: “Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ yaitu cenderung untuk menghindar dari kesesatan dan mengarah kepada kebenaran. Lalu Syetan dating kepada mereka, lalu menyesatkan mereka dari agama mereka.” (Shahih Muslim)

Manusia diciptakan mendua dalam watak dasarnya, kesiapannya, dan tujuannya. Yang dimaksudkan dengan mendua di sini adalah bahwa watak dasar manusia mempunyai kesiapan untuk mengarah kepada kebaikan sekaligus kepada kejahatan, mengarah kepada petunjuk sekaligus kesesatan. Ia mampu membedakan antara apa yang baik dan apa yang jelek, begitu juga ia mampu mengarahkan dirinya kepada kebaikan sekaligus kejahatan. Kemampuan ini telah terpendam di dalam dirinya yang oleh Al-Qur’an suatu saat di istilahkan dengan ilham, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”  dan pada saat yang lain mengistilahkan dengan hidayah, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) di mana ia tersembunyi di dalam konstruksinya dalam bentuk kesiapan (isti’dad). Misi, kontrol dan berbagai faktor yang ada adalah yang membangkitkan dan merangsang kesiapan ini, akan tetapi Dia tidak menciptakannya sebagai hakikat penciptaan karena Dia menciptakan dalam keadaan suci, dengan watak yang tetap  dan ilham yang tersimpan di dalamnya.

Sisi fitrah kesiapan yang terpendam ini mempunyai potensi dasar untuk melakukan persepsi yang mengarah kepada diri manusia, yang sejalan dengan watak dasarnya. Siapapun yang menggunakan potensi ini untuk menyucikan dan membersihkan diri, atau untuk menumbuhkan kesiapan untuk melakukan kebaikan atau mengalahkan potensi yang mengarah kepada kejahatan maka ia telah sukses. Sedangkan orang yang menyalahgunakan potensi ini, atau dengan sengaja menutupi dan melemahkannya maka ia adalah orang yang merugi. Wallahu a’lam.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: