Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

HAJI: ANTARA KEWAJIBAN, GELAR DAN STATUS SOSIAL

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 12:27 pm

Sudah dua minggu berjalan, para jamaah haji Indonesia berangkat secara bergantian ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah, kakak kandung saya beserta isterinya, juga berangkat haji pada tanggal 31 Oktober 2009 lalu. Saya berdoa semoga mereka semua selamat sampai di tujuan dan kembali ke Indonesia dengan selamat pula. Amin ya rabbal alamin.

Berbicara tentang haji, banyak kejadian di dalam masyarakat kita yang kadang-kadang lucu dan menggelikan. Di dekat rumah saya ada seorang perempuan yang sudah berumur setengah baya yang setiap harinya berjualan makanan dan sayuran ke pasar. Konon dia pernah diajak umroh oleh saudaranya beberapa tahun lalu, setelah pulang dari umroh dia minta supaya dipanggil bu haji. Pernah suatu hari, orang tua saya memanggilnya dengan namanya, sebut saja “Aminah..” Beberapa kali dipanggil dia tetap saja berjalan dan tidak menoleh. Setelah agak jauh dipanggil lagi dengan panggilan “bu kaji”, maka dia langsung menoleh dan menjawab “apa bu”. Dalam batin saya, ternyata dia tadi terus berjalan bukan karena tidak mendengar, tetapi karena dia dipanggil namanya tanpa dibubuhi dengan kata “bu kaji”.

Dalam tradisi masyarakat Madura, orang yang telah naik ibadah haji, memiliki prestis tersendiri di masyarakat. Dalam kenduri misalnya, orang-orang yang sudah naik haji, ditempatkan pada halaqah khusus, yang tidak bercampur dengan orang-orang yang belum haji dan biasanya “berkat” mereka berbeda dengan “berkat” mereka yang belum haji. Karena itu, mereka menganggap bahwa haji merupakan suatu ibadah yang sangat luar biasa, yang dapat merubah status mereka di masyarakat. Sepulang dari haji, mereka tidak lagi dipanggil pak dan buk, melainkan dipanggil “abah dan umik”.

Bagi mereka, haji merupakan gelar yang sangat berharga nilainya, sehingga nilainya mungkin hampir sama dengan gelar “Dr. atau professor”  di dunia pendidikan. Karena ada juga dalam masyarakat terpelajar, yang setelah mendapatkan gelar Doktor atau professor, tidak mau menoleh kalau tidak dipanggil  dengan Doktor atau professor.

Di Indonesia, dalam tradisi masyarakat terpelajar, ternyata haji juga dimasukkan dalam gelar yang memperpanjang namanya. Misalnya,  Prof. Dr. H. Munirul Abidin.  Meskipun secara akademik huruf “H” setelah Professor dan Dr. itu tidak menimbulkan penambahan “tunjangan gaji”, tetapi bagi sebagian orang terpelajar, huruf H itu penting, sehingga ada beberapa di antara dosen atau pejabat, yang tidak mau tanda tangan karena namanya kurang huruf “H” yang maksudnya adalah haji. Banyak juga di antara mereka yang dipanggil dengan panggilan  “pak ji” atau “kaji” setelah mereka pulang dari ibadah haji.

Ibadah haji sebenarnya adalah ibadah yang diperitahkan oleh Allah kepada semua umat Islam yang mampu untuk melaksanakannya. Posisinya adalah sama seperti ibadah-ibadah mahdhah lainnya seperti shalat, zakat dan puasa. Tetapi herannya, mengapa orang yang melaksanakan ibadah shalat dengan baik, kok tidak ada yang memanggilnya dengan nama “Pak Shalat”, orang yang melaksanakan puasa Dawud atau selalu puasa Senin dan Kamis, lalu disebut dengan “Pak Puasa” atau orang yang mengeluarkan zakat hingga milyaran rupiah tidak dipanggil dengan “Pak zakat”?

Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena tidak semua orang bisa melaksanakan ibadah haji. Hanya sebagian kecil saja dari masyarakat yang melaksanakan ibadah haji, karena untuk melaksanakan ibadah haji, diperlukan kemampuan yang besar, baik secara jasmani maupun rohani dan moril maupun materiil. Adapun jika semua orang telah mampu melaksanakan ibadah haji dan semua orang sudah melaksanakan ibadah haji, mungkin gelar atau embel-embel haji itu tidak akan muncul lagi.

Seperti yang terjadi dalam masyarakat di sekitar kota Makkah dan Madinah. Semua orang Islam di kota Makkah dan Madinah, atau di sekitar negara Saudi Arabia, sudah melaksanakan ibadah haji dan umroh. Bagi mereka, ibadah haji merupakan sesuatu kegiatan ibadah tahunan yang lumrah dan biasa, seperti kita melaksanakan shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, sehingga meskipun mereka sudah melaksanakan haji sepuluh kali, tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan “pak haji”.  Yang namanya Ahmad tetap dipanggil Ahmad, bukan “Ji Mat” dan mereka juga tidak merubah namanya dengan nama baru, seperti kebanyakan masyarakat kita yang berubah nama setelah pulang dari ibadah haji.

Tetapi apapun yang terjadi di dalam masyarakat kita, ibadah haji merupakan suatu ibadah yang diidam-idamkan oleh semua orang Islam, karena mereka bisa berhadapan langsung dengan Ka’bah atau Baitullah dan bisa bermunajat langsung kepada Allah dengan begitu dekatnya. Di hadapan Ka’bah kita bisa meminta apa saja yang kita kehendaki, meskipun terkabul dan tidaknya, kita serahkan kepada Allah. Kita berdoa, semoga para pembaca yang belum haji, diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa malaksanakan ibadah haji, sehingga layak untuk dipanggil “pak haji” atau “abah kaji”. Wallahu a’lam bishawah.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: