Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

Etika Menurut Imam Al-Ghazali

Filed under: Uncategorized — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 12:21 pm

Bisa dikatakan, Al-Ghazali adalah orang pertama yang memproklamirkan kajian tentang etika. Studi-studi tentang etika sebelumnya tidak begitu sempurna sampai akhirnya beliau menggelutinya dengan memberikan penjelasan dan sistematika yang runtut dan pemahaman yang mendalam. Dialah orang Islam yang pertama kali membukukan disiplin etika dengan kajian filosofis. Beliau menyusunnya berdasarkan semangat keislaman sufistik dan mengguna­kan berbagai studi filosofis. Al-Ghazali memberikan nama ilmu ini dengan beberapa nama seperti,  “Ilmu Jalan Menuju Akhirat”, “Ilmu Akhlak”, “Rahasia-rahasia interaksi keagamaan”  dan juga “Akhlak orang-orang baik”. Ilmu etika menurut Imam Al-Ghazali merupakan ilmu praktis dan bukan ilmu melalui proses penyingkapan. Ilmu etika adalah ilmu yang membahas tentang amal perbuatan lahiriyah dan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang agar perilakunya sesuai dengan semangat syariat.

Menurut Imam Al-Ghazali akhlak memiliki empat makna:

1. Perbuatan baik dan buruk.

2. Kemampuan untuk melakukan keduanya

3. Kemampuan untuk mengetahui keduanya.

4. Kecenderungan jiwa kepada perbuatan baik dan buruk.

Teori Al-Ghazali ini sejalan dengan empat teori keutamaan (summum bonum) yang yang diserukan oleh Plato yaitu: hikmah (wisdom) kebijaksanan, keberanian, kesucian dan keadilan. Beliau berpandangan bahwa keutamaan merupakan moderasi antara dua ekstrimitas yang juga dikembangkan oleh Aritoteles. Beliau berkata,

“Barang siapa yang mampu menyeimbangkan perkara ini dan mampu menjadikan itu sebagai kebiasaanya maka itulah yang disebut dengan akhlak baik secara mutlak, dan barang siapa yang mampu melakukan itu sebagiannya saja sedangkan sebagian yang lain tidak dilakukan maka itu termasuk akhlak baik. Artinya orang yang memperbaiki beberapa bagiannya saja tanpa yang lain, dan memperbaiki potensi amarahnya, serta menyeimbangkannya disebut sifat baik, sedangkan orang yang memperbaiki potensi syahwat dan menyeimbangkannya dianggap telah menjaga kehormatan. Jika potensi amarah lebih dominan daripada penyeimbang yang membawa kepada semakin bertambahnya syahwat disebut ektrim. Jika potensi amarah cenderung semakin mengendor maka itu disebut penakut dan dianggap sebagai sebuah kelemahan. Jika potensi syahwat cenderung bertambah maka yang demikian itu disebut tamak atau loba. Jika potensi syahwat cenderung melemah maka yang demikian itu disebut statis, sedangkan sifat statis termasuk sifat yang hina dan tercela. Sifat adil, jika telah hilang, tidak bertambah dan tidak pula berkurang, bahkan memiliki satu benturan dan kontradiksi yang disebut perbuatan menyimpang (zhalim). Jadi, inti dari akhlak dengan semua prinsip fundamentalnya ada empat macam yaitu: hikmah (wisdom), kebijaksanaan, keberaniaan, menjaga kehormatan dan bersikap adil.

Hikmah adalah kondisi jiwa yang dapat mengetahui perbuatan baik dari perbuatan salah pada semua perbuatan yang telah dipilih oleh seseorang. Yang kami maksud dengan keadilan adalah kondisi atau kemampuan jiwa mendeteksi perasaan marah dan syahwat serta dapat membawa keduanya ke puncak hikmah, mendeteksi keduanya secara bebas dan mampu menekannya sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan yang kami maksud dengan keberanian adanya kekuatan amarah yang berawal dari rasio dalam menunjukkan sekaligus mengisinya. Sedangkan yang kami maksud dengan iffah adalah meminjam potensi syahwat dengan manajemen akal dan manajemen agama. Keseimbangan dari prinsip-prinsip ini semuanya akan memunculkan akhlak yang baik.

Keutamaan-keutamaan ini telah menyatu dengan ajaran Islam, semua nilai yang terambil dari moto Islam merujuk kepadanya, seperti sifat kasih sayang, emansipasi, keberagamaan, dan keadilan, bukan didasarkan atas fungsionalitasnya menurut urutan keutamaan itu, akan tetapi dilihat dari posisi sosialnya.

Al-Ghazali menerima adanya kemungkinan perubahan etika,  dan bahkan beliau mengkritik pandangan orang yang meng­anggap bahwa etika tidak dapat berubah, dan bahwa etika sejalan dengan akumulasi karakter, dan bahwa etika adalah cerminan dari batin dan bahwa mujahadah dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang tidak bermanfaat. Al-Ghazali menjelaskan bahwa perubahan yang dimaksudkan bukan perubahan menjadi akhlak yang tercela dari sebuah jiwa sebagaimana yang diasumsikan oleh sebagian orang, akan tetapi maksudnya adalah keterhubungan dan pelatihannya. Demikian itu dilakukan untuk menemukan manfaat dari ciri-ciri humanistik semua manusia. Sedangkan mengenai bagaimana cara untuk menyempurnakan perubahan ini, Al-Ghazali memberikan isyarat untuk melewati beberapa fase terutama:

a. Mengetahui etika (akhlak) yang tercela

b. Mengetahui cara-cara pengobatan etika secara umum

c. Mengetahui metode mengukur dan mengobati secara khusus berbagai macam penyakit moral yang rusak.

d. Manusia harus mengetahui aibnya sendiri.

e. Mengetahui kondisi tertentu bagi setiap individu secara mendetail.

Demikianlah beberapa prinsip tentang akhlak dan etika menurut Al-Ghazali, semoga kita bisa meneladani akhlakul karimah yang dipaparkan ciri-cirinya oelh Al-Ghazali di atas dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: