Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

DUNIA HIPERMORALITAS

Filed under: Uncategorized — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 12:20 pm

Kondisi bangsa kita yang semakin runyam dewasa ini, telah membawa masyarakat pada suatu kondisi yang mengambang dan krisis kepercayaan. Munculnya kasus-kasus yang melibatkan KPK dan Polri, kasus Bank Mercury yang melibatkan, Mulyani, Budiono  dan Abu Rizal Bakri yang semakin tidak jelas ujung dan pangkalnya, kasus Antasari (mantan ketua KPK) dan kasus-kasus lain yang bermunculan akhir-akhir ini, menjadikan masyarakat kita semakin sulit melihat siapa yang bisa dipercaya, siapa yang salah dan siapa yang benar. Untuk menutupi kesalahan masing-masing, mereka  saling tuduh, saling menjatuhkan dan mengaburkan hukum, sehingga semakin lama hukum disidangkan bukannya semakin jelas, tetapi justru semakin kabur dan tidak ada penyelesaian. Sementara itu, orang-orang lemah yang tidak memiliki jabatan, uang, pangkat dan sebagainya, dalam waktu singkat persidangan mereka sudah bisa selesai dengan hukuman yang sangat berat. Kasus Prita yang didenda membayar 500 juta, pencuri tiga buah kakau yang dihukum tiga bulan penjara, kasus pencuri ayam dan sebagainya, karena tidak bisa membayar pengacara untuk melakukan pembelaan, dengan mudahnya diputuskan bersalah. Sedangkan mereka yang melakukan kejahatan dengan membawa kerugian milyaran rupiah bagi Negara, tidak bisa terjerat sama sekali, seperti belut yang berkelit di dalam lumpur.

Apa yang kita saksikan dari serentetan kasus yang muncul sebagaimana digambarkan di atas menjadi indikasi bahwa pada saat ini batas-batas moral sudah semakin kabur. Segala sesuatu tidak dapat lagi dilihat dari kacamata moralitas yang biasa. Apa yang kini berkembang dalam masyarakat kita adalah apa yang disebut oleh George Bataille dalam bukunya Literature and evil sebagai hipermoralitas, yaitu suatu kondsisi dimana ukuran-ukuran moralitas yang ada tidak dapat dipegang lagi, oleh karena itu situasi yang berkembang telah melampau batas-batas baik/buruk, benar/salah, bagus/jelek, halal/haram, konstitusional /inkonsititusional.

Kaburnya batas-batas moralitas tersebut, telah menggiring masyarakat kita kea rah krisi moral dan krisis legitimasi moral. Krisisi legitimasi (moral) menyebabkan tidak didengarnya lagi oleh masyarkaat imbauan-imbauan moral pihak berwenang, khususnya penguasa, oleh karena mereka sendiri yang justru dianggap sering mempercontohkan tindakan-tindakan yang melanggar moral.

Pada tahap berikutnya, muncul gerakan pembebasan total dari nilai-nilai moralitas, karena nilai-nilai yang ada telah didistorsi atau dicemari oleh tangan-tangan penguasa. Aparat hukum dianggap tidak punya lagi legitimasi untuk menyelsaikan berbagai persoalan hukum dan keadilan. Masyarakat lalu berupaya mencari keadilan dengan cara mereka sendiri disebabkan apatisme yang muncul terhadap hukum.

Keadaan yang seperti ini oleh Julia Kristeva digambarkan dengan istilah abjeksi moral, yaitu suatu kondisi individu atau masyarakat yang tenggelam ke dalam jurang moralitas yang paling rendah, yaitu ketika lenyapnya batas-batas moral itu sendiri. Nilai-nilai moralitas mengambang kesana kemari, menciptakan ambiguitas moral; hujatan rakyat disambut senyum misterius, terror yang bertopeng keamanan, penjarahan harta rakyat yang diberi kosmetik pembangunan, penyiksanaan yang diberi motif kesatuan bangsa, pembunuhan missal yang diberi aroma pengamanan, kejahatan yang ditutup dengan bungkus kepahlawanan, pemerkosaan hak rakyat yang diberi embel-embel semangat cinta dan masih banyak lagi segudang retorika yang digunakan untuk mengelabuhi masyarakat.

Abjeksi moral adalah suatu situasi dimana hukum dipermainkan, diputarbalikkan, diparodi, didistorsi dan dilencengkan arahnya untuk kepentingan pelanggengan kekuasaan. Permainan hukum tersebut menyebabkan kepercayaan kepada hukum dan penguasa semakin pudar dan lenyap. Dalam kondisi yang demikian, apapun yang dikatakan, direncanakan dan dilakukan oleh penguasa tidak dipercaya lagi oleh masyarakat.

Ketidakpercayaan rakyat kepada aparat-aparat Negara semakin besar karena mereka dianggap telah mempermainkan moralitas dan melakukan hipermoralitas. Masyarakat beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh penguasa kini, tidak lebih dari apa yang dikatakan oleh J.F. Lyotard dalam bukunya Just gaming sebagai permainan keadilan. Hukum dianggap tak lebih dari sebuah ajang permainan bahasa.

Untuk mengatakan benar/salah, baik/buruk, dan sebagainya semuanya dilakukan lewat permainan kata-kata yang dianggap dapat mengembangkan, menyembunyikan atau mendistorsi persoalan-persoalan keaadilan yang sesungguhnya. Penggunaan kata-akan sepert “akan diusut tuntas”, sedang diselidiki, sedang dikumpulkan bukti-bukti, dan sebagainya merupakan suatu cara mengembangkan sesuaut persoalan pada suatu ketika persoalan tersebut dilupakan.

Aparat hukum dinilai oleh banyak pihak telah mempermainkan aturan main hukum yang telah disepakati bersama, bukan dalam rangka untuk mencari keadilan atau kebenaran, akan tetapi untuk menyembunyikan keadilan dan kebenaran tersebut demi menyelamatkan kepentingan kekuasaan. Aparat hukum dengan seenaknya menentukan siapa yang berbuat criminal, korupsi, maker, melanggar hukum, mengadu domba, berbuat kekerasan dan sebagainya. Mereka mencampuradukkan apa yang dianggap salah secara hukum dengan apa yang dianggap salah menurut selera mereka.

Dalam keadaan moral yang mengambang tersebut, maka berbagai kelompok masyarakat berupaya mencari pemecahannya sendiri terhadap persoalan-persoalan keadilan yang tengah dihadapi. Krisis legitimasi di bidang hukum ini tampak telah meluas ke dalam berbagai lapisan masayarakat, yang bermuara pada meluasnya bahasa-bahasa masyarakat yang mencari keadilan, dengan gaya bahasa mereka sendiri. Bahasa keadilan rakyat yan menonjol di kalangan mereka adalah bahasa kekerasan, seperti penjarahan, pembakaran, pelemparan, pembunuhan dan sebagainya. Berbagai perasaan dan emosi yang telah bertumpuk seperti gunung di dalam tubuh masyarakat semakin memanaskan iklim kekerasan, sehingga menimbulkan rasa frustasi, kebosanan, dendam, amarah, rasa tidak aman, putusasa, kesenjangan social dan sebagainya. Pada tahap yang lebih ekstrim, akhirnya masyarakat tidak bisa dikendalikan lagi, mereka akan mencari keadilan-keadilan lain yang menurut mereka bisa memuaskan batin mereka, karena tidak ada lagi orang-orang yang dapat dipercaya. Akankah bangsa kita akan menuju pada tahap “hipermoralitas seperti ini”? wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: