Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

Ciri-ciri Jiwa Yang Tenang

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 12:18 pm

Dalam perspektif psikologis bahwa jiwa yang sehat dalam bentuknya yang paling sempurna adalah terciptanya “ketenangan” dan kestabilan dalam diri seseorang sehingga menumbuhkan kepribadian yang normal. Hal yang membeda­kan antara kepribadian normal dan tidak normal bukan saja dilihat dari bentuk prilaku nyatanya sehari-hari, tetapi juga dilihat sejauh mana tujuan dan sasaran prilaku tersebut. Prilaku normal adalah prilaku yang bisa mewujudkan interaksi yang realistis terhadap berbagai problem maupun pertentangan tanpa harus menghindarinya. Dengan pengertian lain, kepribadian yang lurus dan mempunyai integritas adalah kepribadian yang mempunyai ciri prilaku yang kreatif dan realistis, bukan pribadi yang menghindari kenyataan atau membiarkan dirinya terjebak dengan keadaan tersebut.

Kepribadian yang normal secara psikologis bisa dibedakan dari kepribadian yang tidak normal dengan beberapa karakteristik. Ada beberapa karakteristik mendasar dari pribadi yang sehat:

1. Bisa menyesuaikan diri (tawafuq): ciri ini menyiratkan makna penerimaan terhadap diri, keluarga, pendidikan, sosial dan tempat kerja.

2. Merasa bahagia bersama dirinya sendiri: Perasaan tenteram secara psikologis tercermin ketika seseorang mempunyai masa lalu yang bersih, masa kini yang bahagia dan masa depan yang cerah serta bisa menikmati keceriaan hidup tanpa rasa bersalah, terpenuhinya keinginan dan kebutuhan dasar biologis, psikologis dan sosial, merasa damai dan stabil, mempunyai pandangan yang ramah terhadap diri sendiri, bisa menerima dirinya sendiri, percaya diri serta tumbuhnya pandangan yang positif terhadap diri dengan penghargaan yang sebenar-benarnya.

3. Merasa bahagia bersama orang lain: yaitu bias menerima orang lain dan percaya kepada orang yang memang pantas untuk dipercayai serta bisa memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap mereka., yakin dengan percaya kepada mereka secara timbal balik, ramah terhadap orang lain (harmonis secara sosial), bisa menciptakan hubungan sosial yang aman dan langgeng, bisa bergabung dengan masyarakat, bisa melakukan peran sosial yang sesuai serta bisa melakukan interaksi sosial yang aman. Mampu memberi dan melayani orang lain, mandiri secara sosial dan adanya kebahagian keluarga. Saling membantu dengan orang lain, mau memikul tanggung jawab sosial dan berpartisipasi positif dalam perkembangan masyarakat.

4. Mampu Merealisasikan diri dan bisa memanfaatkan kemampuan: Ciri ini tercermin pada kedalaman dan kepekaannya dalam memahami diri dan memberikan penilaian yang realistis-obyektif terhadap kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Menerima sisi kelemahan dan kenyataan yang terkait dengan kemampuan secara objektif. Menerima prinsip bahwa masing-masing orang mempunyai perbedaan antara satu dengan yang lainnya, menghargai diri sepantasnya, memanfaatkan kemampuan dan potensi semaksimal mungkin dan bisa menetapkan tujuan dan tahapan bagi ambisi serta filosofi kehidupan yang realistis dan me­mungkin­kan untuk direalisasikan, pengakuan terhadap diri serta bisa mengembangkan kegiatan dan kandungannya, merealisasi­kan sepenuh kemampuan dalam berusaha, merasa optimis akan berhasil, dan rela terhadapnya, serta bisa melakukan tugas-tugasnya secara produktif.

5. Mampu menghadapi tuntutan hidup: Ciri ini mengandung pandangan yang sehat dan objektif terhadap kehidupan, tuntutan-tuntutan, dan problem sehari-hari.  Yaitu hidup pada masa kini, peka terhadap realitas, berpandangan positif  dalam menghadapi kenyataan, dan mampu menghadapi saat-saat jatuh dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan sepenuh kemampuan secara positif untuk mengatasi masalah kehidupan sehari-hari dan bisa menyelesai­kannya dengan kemampuan untuk menghadapi berbagai kondisi dan situasi, menjunjung tinggi tanggung jawab sosial dan mau menanggung­nya. Begitu juga ia mau memikul tanggung jawab bagi prilaku personal, menguasai situasi lingkungan sesuai dengan kemam­puan, bisa beradaptasi dengannya, serta bisa menerima berbagai pengalaman dan pemikiran baru.

6. Memiliki jiwa yang integral: Yaitu mampu melaksanakan fungsi secara sempurna sesuai dengan kepribadian yang integral dengan segala aspeknya, baik secara jasmaniah, rasional, emosional, maupun sosial, bisa menikmati kesehatan dan fenomena-fenomena perkembangan jasmani serta rohani.

7. Berprilaku normal: Prilaku normal adalah prilaku yang bisa diterima oleh kebiasaan yang berlaku pada mayoritas manusia normal, selalu berupaya melakukan perbaikan tingkat harmoni kejiwaan, serta mampu mengontrol dan menguasai diri.

8. Mampu hidup dengan damai: Maksudnya bias menikmati kesehatan jiwa, jasmani dan social. Merasa damai dan tenang luar dalam, bias menerima kehidupan dan menikmatinya tanpa merasa bersalah, serta bias membuat perencanaan bagi masa depannya secara realitstis, tepat dan penuh harapan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: