Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

BAGAI AYAM MATI DI DALAM LUMBUNG

Filed under: UMUM — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 12:01 pm

Beberapa hari ini, beberapa stasiun televisi menayangkan adanya beberapa anak yang mengalami gizi buruk akibat kurang gizi. Di antara beberapa daerah yang disoroti oleh mass media sebagai kantong gizi buruk menyebar di seluruh nusantara, terutama di daerah-daerah terpencil. Sebagian besar ada di pulau Lombok Barat (NTB) dan beberapa daerah terpencil di Jawa Timur, seperti Pacitan, Ponorogo, Trenggalek dan daerah-daerah terpencil lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa kondisi perekonomian bangsa Indonesia pada saat ini, masih jauh dari harapan. Seakan-akan jargon kita yang katanya merupakan negara yang makmur, gemah ripah loh jinawi itu, masih belum terlihat jelas.

Dari laporan data tentang kemiskinan di Indonesia, selalu tercatat bahwa angka kemiskinan di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Konon, angka kemiskinan di Indonesia pada tahun 2009 menurut perkiraan BAPPENAS mencapai 33,5% dari seluruh penduduk Indonesia. Tapi, bila pemerintah bisa mengendalikan laju inflasi sebesar 6% maka jumlah orang miskin di negara ini bisa ditekan menjadi 29,9 juta saja. Meski, “Pertumbuhan ekonomi hanya 4,5%,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di Jakarta, Kamis (12/2/09).  Skenario Bappenas lainnya, jika tingkat inflasi 9% dengan pertumbuhan ekonomi 5%, diperkirakan angka kemiskinan 32,8 juta orang. Cuma, kalau inflasi bisa bertahan 6% dan ekonomi tumbuh 5%, maka jumlah orang melarat di Indonesia hanya 29 juta. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2008 lalu, jumlah orang miskin mencapai 34,96 juta atau 15% dari total penduduk Indonesia. Atau, turun 2,21 juta jiwa ketimbang tahun 2007 yang tercatat ada 37,17 juta warga miskin di Tanah Air.

Melihat angka-angka di atas, tentunya kita merasa ngeri, karena ternyata di alam Indonesia yang subur makmur loh jinawi, yang dalam sebuah lagu dikatakan bahwa tongkat kayu dibenamkan dalam tanah menjadi tanaman, tetapi kenyataannya 30 juta jiwa di Indonesia masih kelaparan. Dari siaran berita di televisi, kita juga sering melihat adanya beberapa keluarga yang anaknya menderita penyakit gizi buruk dengan ciri-ciri; badan kurus, kepala besar, mata melotot dan tubuh lemas. Gizi buruk bisa terjadi karena asupan gizi yang dimakan oleh si anak dari orang tua tidak mencukupi untuk mensuplai kebutuhan tubuh, sehingga menyebabkan kondisi yang mengenaskan tersebut. Keadaan ini, tentu menjadikan kita terpukul dan merasa prihatin. Mungkin bila gizi buruk itu terjadi di Somalia, Ethiopia dan sebagainya orang masih memaklumi, karena di sana kondisinya sangat panas, tidak ada hujan sehingga tanah kering tidak bisa ditanami. Banyak masyarakat yang mati kelaparan dan kehausan karena memang alam tidak menyediakan makanan yang cukup untuk mereka. Belum lagi kondisi peperangan yang melanda negara mereka, menjadikan kondisi ekonomi tidak menentu.

Akan tetapi, Indonesia tentu berbeda dengan kondisi Ethiopia atau Somalia. Mestinya apa yang disediakan oleh Allah di bumi Indonesia yang subur makmur ini, tidak mungkin menjadikan adanya kelaparan dan gizi buruk, karena di mana pun tanaman disemai, pasti akan tumbuh dan menghasilkan buah yang bisa dimakan.

Yang lebih mengherankan lagi, pemerintah masih mengimpor beras hingga ribuan ton dari Thailand dan negara-negara yang negaranya tidak sebesar Indonesia, sehingga banyak para petani yang merasa dirugikan, karena harga padi menjadi anjlok, sehingga banyak para petani yang enggan untuk bertani, sebab hasil yang mereka peroleh dari hasil pertanian, tidak mencukupi untuk modal dan kebutuhan mereka sehari-hari.

Memang pemerintah akan mengalami kebingunan dalam menentukan keberpihakan mereka, antara membela para petani, wirausahawan, atau masyarakat miskin non petani. Jika pemerintah membela petani dengan tidak mengimpor beras dan hasil pertanian lainnya dari luar negeri, maka harga padi dan lain-lain menjadi mahal, sehingga masyarakat miskin non petani merasa keberatan untuk membeli beras. Jika pemerintah berpihak kepada rakyat miskin non petani dan pengusaha, maka petani merasa dirugikan karena harga beras menjadi murah sehingga mereka enggan untuk bertani.

Menghadapi dilema di atas, mestinya pemerintah bisa menjamin seluruh masyarakatnya untuk bisa makan dan terpenuhi gizi mereka hingga empat sehat lima sempurna. Seharusnya pemerintah bisa mengendalikan harga bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat sehari-sehari. Jika pemerintah misalnya menetapkan harga standar yang tidak boleh dilanggar oleh para pedagang di pasar, misalnya, harga beras dipatok Rp. 4000/kg dan tidak boleh lebih dari itu, maka masyarakat akan menjadi stabil. Tetapi jika harga bahan pokok naik turun mengikuti harga pasar bebas, maka masyarakat menjadi kesulitan mengikuti kenaikan dan keturunan harga tersebut..

Ada pengalaman yang mungkin bisa diambil manfaatnya oleh bangsa Indonesia. Di negara-negara Timur Tengah, terutama Saudi Arabia, harga makanan pokok yang dijadikan sebagai konsumsi harian oleh masyarakat, tidak pernah berubah hingga sekarang. Bahan pokok seperti roti, daging, gula, minyak dan sebagainya tetap stabil dari dulu hingga sekarang, karena pemerintah menjamin bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat  sehingga mereka tidak kelaparan… tobe continued………..wallahu a’lam.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: