Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

Antara Normativitas dan Historisitas

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 7:50 am

ANTARA NORMATIVITAS DAN HISTORISITAS
Belakangan ini banyak terjadi bencana melanda negeri kita, mulai dari Sunami, gempa bumi, tanah longsor hingga kebakaran terjadi dimana-mana. Fenomena bencana itu menyebabkan terjadi banyak perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai sebab-sebab terjadinya. Sebagian dari kita mengatakan bahwa penyebabnya adalah karena bumi ini sudah tua dan terjadinya bencana alam merupakan sesuatu yang bersifat alami yang akan terjadi secara berulang, karena lempengan atau lapisan bumi tertentu akan mengalami pergeseran setelah sekian tahun, yang dapat dihitung melalui ilmu geologi. Sebagian lain mengatakan bahwa bencana itu terjadi karena peringatan Allah kepada manusia yang banyak berbuat dosa. Manusia dengan angkuhnya mengeruk alam sesukanya, banyak melakukan perbuatan keji, perzinaan terjadi dimana-mana, korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi makanan harian yang sudah dianggap lumrah.
Kedua cara pandang di atas sama-sama benarnya, karena yang pertama melihatnya dari aspek historisitas dan yang kedua melihatnya dari sudut pandang normativitas. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, memang tidak bisa lepas dari aspek historisitas manusia, karena manusia diberi pilihan oleh Allah untuk menentukan nasibnya sendiri, seperti yang difirmankan-Nya, “Aku tunjukkan kepada kalian dua jalan; jalan yang baik dan buruk”, terserah mana yang kamu pilih. Dari sudut pandang ini, seakan-akan manusia bebas menentukan pilihannya sendiri dan Tuhan hanya menunjukkannya saja.
Tetapi di sisi lain, sebenarnya kebebasan manusia sangat terbatas, karena ALlah telah menetapkan segala sesuatunya berdasarkan ukuran dan takdirnya masing, “Inna kulla syai’in khalaqnahu biqadar” (Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan dengan ukuran yang tepat). Secara normative manusia tidak punya pilihan, karena segala tindak dan gerak-geriknya telah ditentukan oleh Allah, sedangkan dia hanya menjalaninya.
Secara normative manusia memang telah ditentukan takdirnya. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini telah ditentukan takdirnya bahkan pohon jatuh pun telah ditentukan takdirnya, sedangkan manusia hanya tinggal menjalankan takdir itu. Demikian menurut faham teologi Asy’ariyah atau jabariyah. Berbeda dengan pendapat kelompok Mu’tazilah atau Qadariyah. Menurut mereka manusia seratus persen sebagai penentu nasibnya sendiri. Nasib baik dan buruk yang menimpa manusia karena ulah manusia itu sendiri, sedangkan Tuhan tidak ikut campur di dalamnya, karena Tuhan hanya memberikan eksekusi atas apa yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Dalam perdebatan yang panjang, tampaknya kedua kelompok ini tidak pernah sepakat dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga selalu terjadi perseteruan yang berkepanjangan antara kedua belah pihak. Hingga akhirnya muncul jalan tengah yang mencoba untuk memadukan antara keduanya, seperti kelompok Maturidiah yang mengatakan bahwa meskipun Allah sebagai penentu nasib manusia tetapi manusia juga ikut andil di dalamnya.

Perdebatan di atas sebenarnya ingin mencari jawaban atas sebuah pertanyaan, siapa sebenarnya penentu nasib manusia? Memang manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih. Dalam kehidupan riil, kita bisa memilih jalan apa yang akan kita tempuh. Seakan-akan tidak yang dapat mencegah pilihan kita. Ibaratnya, jika di depan kita 10 jenis makanan, maka kita bisa memilih satu, dua, tiga atau seluruh makanan itu kita makan, maka seakan-akan kita sendiri yang menentukannya dan tidak ada campur tangan orang lain.
Itulah historisitas kita sebagai manusia. Tetapi ketika nanti tiba-tiba kita mengalami sakit perut, kolestrol atau penyakit-penyakit lain yang menyebabkan kita sakit parah, maka kita baru sadar bahwa meskipun dalam historisitas kita bebas melakukan sesuatu, tetapi ternyata kebebasan kita dibatasi oleh keterbatasan kita sendiri. Pada saat itulah kita berpasrah bahwa ternyata kita tidak sepenuhnya punya pilihan dan ternyata kita harus menyerah pada takdir Tuhan bahwa hidup kita telah berakhir.. wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: