Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

Amal Shaleh

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 11:37 am

Dalam Al-Qur’an, kata amal shaleh selalu dihubungkan dengan iman. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang iman yang kemudian diikuti dengan kata amal shaleh, seakan-akan keduanya merupakan pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Meskipun tidak semua kata iman dihubungkan dengan amal shaleh, tetapi banyaknya kata iman dan amal shaleh yang dihubungkan dengan iman menunjukkan bahwa iman dan amal shaleh merupakan dua hal yang sangat dekat, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi berikut:

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.” (Al-Kahfi: 30)

Ayat di atas menggambarkan bahwa suatu perbuatan baik (amal shaleh) yang disertai dengan iman, maka amal perbuatan tersebut tidak akan sia-sia, melainkan diterima di sisi Allah. Sebaliknya, hal ini memberikan pengertian bahwa suatu amal perbuatan baik, manakala tidak disertai dengan iman, berarti tidak akan membawa kebaikan apa-apa bagi manusia. Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” (Al-Ahqaf: 19).

Sedangkan dari hadis Nabi yang mulia:

لاَ يُقْبَلُ إِيْمَانُ بِلاَ عَمَلٍ وَلاَ عَمَلٌ بِلاَ إِيْمَانٍ (الطبراني)

“Tidak diterima iman tanpa amal dan tidak diterima amal  tanpa iman.” (At-Thabrani)

Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang masalah iman dan amal shaleh ini. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan kata “amal shaleh” ini? Apakah amal shaleh itu hanya merupakan amal yang ada kaitannya dengan ibadah ataukah termasuk di dalamnya amal perbuatan lainnya yang tidak termasuk dalam ibadah mahdhah?

Menilik pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang dipaparkan di atas, tidak ada penjelasan yang spesifik bahwa yang disebut amal shaleh adalah amalan-amalan ibadah mahdhah, tetapi ayat-ayat di atas memiliki makna yang umum, yaitu barangsiapa yang beramal shaleh dan disertai dengan iman, maka dia akan mendapatkan balasan yang besar di sisi Allah. Ini menunjukkan bahwa kata amal shaleh memiliki makna yang umum, yaitu segala amal perbuatan yang dapat memberi manfaat bagi manusia, baik yang berkaitan dengan amal perbuatan keduniawian maupun keakhiratan dapat disebut amal shaleh.

Rasulullah saw. Sendiri ketika menjelaskan tentang seseorang yang bekerja mencari makan dengan tangannya sendiri, jauh lebih baik daripada orang yang meminta-minta, karena itu bekerja apapun pekerjaannya, asalkan halal dan tidak bertentangan dengan syariat, juga disebut sebagai amal shaleh, seperti sabda beliau:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطٌّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يِأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُوْدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seorangpun makan makanan yang lebih baik dari hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Dawud  makan dari hasil jerih payahnya sendiri”. (HR. Bukhari)

Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang bekerja membanting tulang untuk keperluan diri dan keluarganya, sehingga dia mendapatkan rizki yang halal, maka pekerjaannya itu disebut sebagai amal shaleh yang mendatangkan pahala yang besar dari sisi Allah. Rasulullah juga bersabda,

مَنْ أَمْسَى كَالاً مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ

“Barang siapa yang di waktu sore capek karena bekerja keras maka pada sore itu dia telah diampuni.” (Ahmad).

Hadits di atas memberikan penjelasan bahwa keringat seseorang yang mengucur karena kerja mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga, merupakan ibadah yang dapat menghapus dosa. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dapat disebut sebagai amal shaleh?

Menjawab pertanyaan ini, tentu kita harus melihat ayat-ayat lain yang berkaitan dengan amal shaleh. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa kata iman dan amal shaleh, selalu disebutkan secara berdampingan. Ini mengandung arti bahwa  seseorang baru bisa dikatakan beramal shaleh bila dia beriman kepada Allah yang “Ahad” (Esa). Jika dia tidak beriman maka akan sia-sialah amal seseorang.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi, 18 : 103-104).

Ayat di atas dengan jelas menjelaskan bahwa amal perbuatan manusia yang baik-baik akan menjadi sia-sia dan tidak berguna di akhirat, jika tidak disertai dengan iman. Amal perbuatan baik yang tidak disertai dengan iman digambarkan oleh Allah seperti debu-debu yang beterbangan yang tidak ada manfaatnya.

Allah SWT berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al Furqaan, 25 : 23). Juga dalam firman-Nya: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Ibrahim, 14 : 18).

Di samping iman, syarat lain sebuah amal shaleh akan mendatangkan pahala jika disertai dengan niat yang baik, bukan karena riya’. Niat yang bagus adalah niat untuk mendapat ridho Allah SWT. Atau untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

”Di antara orang-orang Arab Badwi ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya di jalan Allah untuk mendekatkannya kepada Allah dan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [At Taubah:99]

Orang yang berbuat kebaikan hanya untuk mendapat ridho Allah akan mendapat pahala berlipat ganda:

”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:261]

”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat” [Al Baqarah:265]

Di tempat lain Allah berfirman:

“Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan kesyirikannya”).

Ayat-ayat dan hadits di atas menjelaskan bahwa amal shaleh yang diterima di sisi Allah adalah yang diniatkan karena Allah bukan untuk yang lain, seperti karena riya’ dan sebagainya. karena itu, jika seseorang melakukan amal perbuatan baik secara lahiriyah, tetapi niatnya bukan karena Allah, melainkan karena seseorang atau yang lain, maka amal perbuatannya menjadi sia-sia seperti buih yang terbawa air atau debu yang diterbangkan oleh angin. Untuk itu, guna meningkatkan kualitas amal shaleh kita, maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan: pertama, amal shaleh kita harus senantiasa dilandasi karena keimanan kepada Allah dan kita harus berniat bahwa amal perbuatan kita tersebut dilakukan dalam rangka untuk beribadah kepada Allah. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: