Munirulabidin's Blog

May 7, 2010

Akhlak Seorang Mukmin

Filed under: AGAMA DAN FILSAFAT — Dr. Munirul Abidin, M.Ag @ 8:18 am

Akhlak Seorang Mukmin

Ahlak merupakan hal yang sangat penting bagi seorang mukmin. Dikatakan dalam sebuah kata bijak:

“Suatu bangsa masih akan tetap ada jika mereka berakhlak, tetapi jika akhlak itu hilang berarti mereka telah tiada”

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas mengenai fenomena jiwa yang saleh, jiwa yang baik, jiwa yang bersyukur, jiwa yang adil, jiwa yang dapat dipercaya dan jiwa yang setia. Dalam arti lain, saya akan mencoba untuk mendiskusikan mengenai nilai-nilai, prinsip-prinsip dari akhlak terpuji. Seorang mukmin adalah seorang yang sabar, rendah hati, toleran dan mempunyai rasa malu. Allah berfirman,

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al-Furqan: 63)

Ayat di atas menggambarkan bahwa pribadi seorang mukmin adalah pribadi yang tenang, selalu berfikir, berbicara sopan dan tidak suka melakukan hal-hal yang bisa memancing keributan dan kekacauan. Seorang mukmin adalah seorang yang berhati-hati, tidak tergesa-gesa, teguh dan menepati segala perbuatan yang telah mereka niatkan. Anda juga dapat mengenali mereka dengan peribadinya yang lemah lembut, mudah menerima, jujur, menepati janji dan adil dalam segala hal.

Jika kita harus memilih satu sifat yang menyeluruh bagi seorang mukmin, kita bisa mengatakan bahwa sifat tersebut adalah sakinah (tenang). Sakinah adalah satu sifat spesifik yang menunjukkan bahwa manusia dapat menggunakan potensi internalnya, mengontrol dan mengaturnya. Ia adalah sifat yang independen yang menunjukkan bagaimana kehar­monisan unsur jiwa, keselarasan antara elemen-elemen perekatnya serta dapat membawa kepada ketundukan dan keselamatan bagi pemiliknya. Sesuatu yang tidak diberikan kecuali kepada seorang mukmin.

Kita dapat mengetahui ketenangan ini dari mimik dan raut muka seseorang di mana ia bukan hanya ketenangan pada tataran permukaan saja, tetapi juga ketenangan secara internal yaitu ketenangan secara batin. Ia bukan merupakan ketenangan yang hampa atau ketenangan yang bodoh, melainkan ketenangan yang terfokus, jernih, mengintegrasikan keinginan dan memiliki pandangan yang jelas.

Inilah keutamaan seorang mukmin, yaitu ketenangan yang memancarkan wibawa. Lalu pertanyaannya adalah mengapa? Sebabnya adalah karena hubungan seorang mukmin dengan apa yang ada di sekitarnya adalah hubungan yang indah dan berbeda dengan yang lainnya, hubungan antara hari kemarin dengan hari besok, hubungan dirinya dengan orang lain, hubungan mati dengan hidup, dan hubungannya dengan amal, semua dilandasi dengan komitmentnya terhadap nilai moral.

Etika atau akhlak menurut pandangan kaum empirisme dan juga menurut pandangan filosof adalah pemenuhan dari keinginan-keinginan seseorang tanpa berbenturan dengan kepentingan orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhan mereka. Yaitu sebuah konsep yang bercorak materialis dan sosialis pada level pertama dan bertujuan adalah mendapatkan keuntungan pribadi.

Adapun etika menurut agama adalah menghilangkan segala keinginan, menundukkan hawa nafsu, mengekang hawa nafsu, dan menahan hasrat sehingga anda bisa mewujudkan apa yang seharusnya ada dalam diri anda sebagai khalifah Allah dan sebagai pewaris alam semesta yang telah ditundukkan kepada anda. Konsep akhlak di sini bersifat individual di mana  tujuannya adalah untuk mengantarkan seseorang kepada tingkat kesem­purnaan, meskipun di dalamnya tetap ada keuntungan secara sosial akan tetapi itu hanya bersifat sampingan semata. Oleh karena itu, masyarakat yang berangkat dari individu seperti mereka, mesti di dalamnya ada keserasian, kedamaian dan kasih sayang.

Akhlak dalam pandangan ini berarti keluar dari perbudakan nafsu dan berorientasi hanya kepada sang Pencipta, dari sesuatu yang bersifat parsial menuju sesuatu yang bersifat universal, dari sesuatu yang bersifat relatif menuju sesuatu yang bersifat absolut, yang bersumber dari kecintaan kepada sesuatu yang bersifat materialistik menuju sesuatu yang bersifat spiritual di mana yang demikian itu harus menjadi pelajaran bagi setiap orang. Yang demikian itu tidak mungkin akan dapat terwujud secara sempurna kecuali jika mata batinnya benar-benar sehat, yang dengan itu ia dapat melihat segala sesuatu dengan segenap esensi dan eksistensinya.

Oleh sebab itu akhlak agama itu muncul melalui proses perjuangan melawan hawa nafsu sehingga ia dapat menguasai dan menundukkannya. Bukan dengan membiarkan serta terus mengikutinya sebagaimana yang menjadi ciri dari akhlak buruk karena yang demikian itu bukan mengajak ke jalan perbaikan pendapatan diri, bahkan itu adalah cara untuk mengeluarkan dari rahasia-rahasi diri. Demikianlah ada dua perbedaan pandangan secara umum dan akan membawa seseorang ke jalan yang juga berbeda.

Sungguh, keinginan dan hawa nafsu manusia sangat banyak sehingga manusia seakan-akan sebagai bagian dari nafsunya. Manusia selalu terpenjara dengan kekangan dari tuntutannya. Manusia melihat kehidupan ini hanya dalam naungan kekangan yang telah dibuat serta menjadi sasarannya. Manusia ini tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah khalifah Allah di bumi, dan bahwa ia dengan kekhalifahan ini pertama kali harus menjadi pemimpin pada dirinya atau bahkan hakim pada dirinya,  bukan justru menjadi yang dihakimi oleh nafsu syahwat. Yang demikian itu merupakan salah satu potensi yang diberikan Allah baginya, di mana ia harus menundukkannya karena padanya terdapat kebaikan untuk dunianya dan juga untuk negeri akhiratnya.

Tidak diragukan lagi bahwa materi adalah alat kekuasaan manusia di setiap waktu dan tempat. Penguasaan ini tidak ada putusnya dan tidak ada orang yang mampu menahan diri dari batasan-batasannya. Manusia berbuat kesewenangan dan melampaui batas, dan keinginan manusia terjebak untuk melakukan kerusakan. Harta dan keinginan untuk meraih kesenangan dunia, kehormatan dan kekuasaan merupakan sesuatu yang tetap ada pada diri manusia, yang tertanam pada dirinya, sebelum mereka memiliki pegangan, pandangan dan tempat berpijak. Allah mengetahui keinginan setiap jiwa terhadap harta, sehingga syari’at sangat mentolerir apa yang ingin diwujudkan oleh manusia berupa keseimbangan antara kesenangan terhadap harta dan terjumus ke dalam jebakannya, Allah berfirman:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Sekalipun harta adalah perhiasan, akan tetapi ia tidak lebih dari perhiasan kehidupan dunia, sedangkan perhiasan seperti itu pasti akan sirna. Jika harta itu digunakan untuk amal shalih, seperti mengeluarkan zakat, berbuat baik pada kedua orang tua, kerabat, tetangga dekat, menyantuni faqir miskin maka harta tersebut akan kekal dan pemiliknya akan menemukannya nanti di akhirat dan akan mendapatkan balasan dan ridha Allah.

Adapun manusia yang beriman adalah orang yang memiliki kelapangan jiwa, lain dari yang lain, memiliki akhlak yang berbeda serta pandangan yang berbeda pula, memandang bahwa kelezatan dunia akan hilang, harta dunia hanyalah ujian untuk mendapatkan tempat dan derajat nanti di kemudian hari. Dunia hanyalah jalan menuju tempat dan derajat yang kekal, dunia diibaratkan seperti dunia ilusi, dan hanya Allah penjamin satu-satunya dalam perjalanan di dunia dan di akhirat. Dia adalah hakim dan penentu, tanpa ada selain-Nya. Sekalipun manusia berkumpul untuk berbuat kemudharatan, akan tetapi mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah. Seandainya mereka berkumpul untuk melakukan suatu kemanfaatan, mereka tidak mampu melakukanya kecuali apa yang memang telah ditetapkan oleh Allah. Oleh karenanya tidak layak bagi manusia membangga-banggakan kesuksesan dan berputus asa dari kegagalan. Apabila ditimpa sesuatu yang dibenci ia akan berkata kepada dirinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216).

Allah adalah sumber kebijaksanaan, keadilan dan kasih sayang. Oleh karena itu, suatu keburukan terjadi, pasti karena suatu sebab, atau dengan satu hikmah atau faidah, atau karena satu keadilan. Allah tidak pernah dengki atau sentimen kepada seseorang, bahkan Dia Maha penyayang kepada semua manusia sekalipun hati mereka lalai:

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.”  (Ali Imron: 196-197).

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” (At-Taubat: 51)

“Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka.” (Ali-Imron: 178).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22-23)

Dari penjelasan beberapa ayat di atas, seorang mukmin mendapatkan ketentraman, ketenangan jiwa, ketenangan pikiran, percaya pada keputusan, keadilan dan rahmat Allah.

Mukmin seperti ini tiap kali meninggalkan keinginan syahawatnya, selalu menemukan penggantinya yaitu merasakan manisnya iman di dalam hati, yang mana dengan itu ia menemukan kebebasan secara internal dari kekangan nafsu dan memperolah cahaya dalam mata batinnya. Seorang mukmin meninggalkan segalanya—untuk mendapatkan bagian-bagiannya—demi untuk meraih kebenaran hakiki, meninggalkan segala macam perdebatan menuju penegakan perintah-perintah, meninggalkan hawa nafsu menuju kehadiran Tuhan. Ia menahan diri dari kesenangan dan berbuat karena adanya tujuan-tujuan tertentu seperti jabatan dan harta,  tetapi dia merasa tentram di sisi Allah karena tidak ada harta kecuali harta-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

1 Comment »

  1. Terima kasih ustadz atas makalahnya semoga bermanfaat bagi kita semua, amin

    Comment by Dr. Munirul Abidin, M.Ag — May 7, 2010 @ 8:37 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: